Pekanbaru, RIAUIN.COM – Lebih dari 38 hektare lahan di Kota Pekanbaru, Riau, hangus terbakar akibat lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh musim kemarau ekstrem. Kecamatan Payung Sekaki dan Kecamatan Rumbai tercatat sebagai kawasan dengan tingkat kerusakan paling parah.
Data terkini hingga Jumat (10/7/2026) menunjukkan bahwa otoritas penanggulangan bencana setempat telah mendeteksi 64 kasus kebakaran yang tersebar secara sporadis di hampir seluruh kecamatan. Tingginya potensi perluasan karhutla memaksa pemerintah daerah mengambil langkah cepat untuk mencegah kabut asap pekat kembali mengepung Riau.
Pelaksana Tugas Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Pekanbaru, Martin Manouluk, mengungkapkan bahwa fluktuasi titik api di Kecamatan Payung Sekaki dan Kecamatan Rumbai menyumbang lebih dari separuh total luasan lahan yang terbakar di ibu kota Provinsi Riau.
“Guna mempercepat pergerakan personel di lapangan, Pemerintah Kota Pekanbaru kini resmi memberlakukan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla hingga 30 November 2026. Status tersebut diambil lebih awal untuk mengoptimalkan koordinasi pemadaman dan memangkas waktu respons tim di lapangan,” ujar Martin.
Lonjakan kasus karhutla di Riau dipicu oleh fenomena iklim El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat. Puncak musim kemarau ekstrem diperkirakan akan mencengkeram wilayah Riau dari Juni hingga November 2026. Kondisi tanah yang mengering dibarengi cuaca terik membuat semak belukar sangat mudah tersulut api.
Martin juga mengimbau masyarakat untuk proaktif memantau lingkungan sekitar dan segera memberikan informasi jika melihat indikasi munculnya asap. “Kami mengimbau warga melaporkan kepada Tim Reaksi Cepat Pekanbaru Aman 112 ketika ada kebakaran lahan,” tambah Martin.