Di sebuah rumah produksi sederhana, sekelompok perempuan muda tengah berkarya dengan penuh ketekunan. Mereka sedang membatik kain dengan motif yang rumit, menorehkan cairan tinta dengan teliti di atas kain biru. Suasana ruangan hangat dipenuhi percakapan lirih dan gesekan kain, menciptakan tempat di mana seni batik tradisional tumbuh dengan kesabaran dan ketelitian tinggi.

Seorang perempuan muda fokus membatik di atas kain berwarna biru tua, dengan teliti menggoreskan cairan tinta mengikuti pola yang telah digambar sebelumnya. Di tempat itu, tangan-tangan terampil menciptakan motif yang rapi dan simetris, menghasilkan karya batik yang elegan dengan sentuhan seni Melayu tradisional.

Di ruangan sebelahnya, perempuan muda lainnya juga sibuk menyelesaikan karya batik mereka masing-masing, menunjukkan konsentrasi penuh dan ketekunan dalam merawat warisan budaya Melayu. Salah seorang perempuan paruh baya, Tengku Syarifah Nurila Zaharazad, memperlihatkan kain selempang biru dengan motif putih, sebagai pemilik usaha tenun dan batik di Pekanbaru.

Dari ruang produksi yang sederhana, lahir karya-karya batik dan tenun yang memiliki nilai estetika tinggi, mencerminkan kesabaran, ketekunan, dan kecintaan terhadap budaya Melayu. Meskipun dihadapkan pada produk pabrikan dan motif digital, para perempuan ini tetap mempertahankan proses manual, percaya bahwa sentuhan tangan manusia memberikan nilai ruh yang tak tergantikan oleh mesin.

Candafa Tekat Tiga Dara, pusat kerajinan milik Nurila, telah berkembang menjadi salah satu sentra kerajinan Melayu di Pekanbaru. Mereka memproduksi beragam karya, mulai dari kain batik, tenun, hiasan dinding, hingga suvenir pernikahan, dengan pesanan datang dari berbagai kalangan, termasuk dari luar daerah bahkan mancanegara.

Nurila tidak hanya mencari keuntungan dalam usahanya, tetapi juga memiliki cita-cita untuk memperkenalkan kekayaan budaya Riau kepada masyarakat luas. Dengan semangatnya, ia ingin menjaga agar seni sulaman tekat tidak hilang ditelan perkembangan zaman, sehingga menjadikan Candafa Tekat Tiga Dara sebagai wadah pelestarian warisan budaya Melayu.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Bank Rakyat Indonesia (BRI), telah membantu perkembangan usaha Candafa Tekat Tiga Dara. Meskipun masih dihadapi dengan kendala, seperti keterbatasan tempat penyimpanan produk dan pengadaan bahan baku, Nurila dan timnya tetap semangat dalam menjaga tradisi dan menghasilkan karya-karya berkualitas tinggi.

Melalui proses manual yang membutuhkan waktu dan ketelitian tinggi, Candafa Tekat Tiga Dara tetap setia dengan nilai-nilai tradisional dalam menghasilkan karya-karya batik dan tenun yang memukau. Perjuangan para perempuan ini bukan hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.