Assoc Prof Eka Putra ST MSc PhD menyoroti pentingnya literasi digital dan jurnalisme dasar dalam menghadapi gelombang informasi yang tak terfilter. Dalam tulisannya, ia menyatakan bahwa masyarakat Indonesia cenderung aktif secara digital namun kurang dalam literasi. Hanya 20,7 persen penduduk Indonesia yang membaca buku setiap hari, sementara akses informasi didominasi oleh konten digital pendek tanpa verifikasi yang jelas.
Di tengah kondisi ini, dua isu besar tengah membelah opini publik, yaitu pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS dan kasus dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional. Kedua isu ini menjadi panggung bagi “perang opini” antara pendukung pemerintah dan pengkritiknya, menguji kemampuan literasi digital masyarakat.
Menurut Eka Putra, krisis verifikasi informasi semakin rumit karena narasi yang dibangun oleh berbagai pihak. Newsfluencer pro-pemerintah sering mengabaikan data yang merugikan, sementara pengkritik membangun narasi ekstrem tanpa verifikasi yang jelas. Hal ini membuat masyarakat rentan terhadap informasi palsu atau hoaks.
Eka Putra menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami prinsip dasar jurnalisme, seperti verifikasi informasi, pemisahan antara fakta dan opini, serta pentingnya sumber informasi yang jelas. Ia juga menekankan pentingnya memahami sudut pandang berbeda dalam sebuah berita dan keberanian untuk mengakui kesalahan.
Selain itu, Eka Putra menyoroti perlunya literasi media sebagai bagian dari kurikulum dasar kehidupan, dimulai dari keluarga dan sekolah. Tanpa intervensi serius, generasi muda akan terus menjadi konsumen informasi yang pasif dan rentan terhadap propaganda.
Dalam penutupnya, Eka Putra menegaskan bahwa memiliki kemampuan jurnalisme dasar adalah kunci untuk tetap waras dan berdaulat atas informasi yang dikonsumsi setiap hari. Etika bukan hanya milik wartawan, tetapi juga milik semua individu.