Petugas Karhutla Jadi Penyelamat Rumah Warga di Kecamatan Kandis

KANDIS, SERANTAU MEDIA – Langit sore di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, Selasa (2/6/2026), belum sepenuhnya tenang ketika rombongan personel Manggala Agni Daops Pekanbaru mulai meninggalkan lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pencing Bekulo. Selama tujuh hari terakhir, mereka berjibaku melawan api dan asap yang menyelimuti kawasan tersebut. Tugas hari itu pun belum benar-benar ringan. Mereka baru saja menyelesaikan proses mopping up atau pendinginan lahan untuk memastikan bara api tidak kembali menyala.

Tubuh lelah dan pakaian yang masih berbau asap menjadi saksi panjangnya perjuangan mereka di lapangan. Namun perjalanan pulang yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat mendadak berubah menjadi misi penyelamatan baru. Di sepanjang Jalan Lintas Kandis, perhatian para petugas tertuju pada kepulan asap tebal yang membumbung dari sebuah rumah warga. Kobaran api terlihat semakin membesar dan mulai melalap bangunan.

Tanpa perlu instruksi panjang, kendaraan operasional yang mereka tumpangi langsung berhenti. Para personel Manggala Agni bersama anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) Agrinas dan Masyarakat Peduli Api (MPA) Pencing Bekulo bergegas turun. Rasa lelah yang sejak pagi menguras tenaga seolah tak lagi menjadi penghalang. Mereka bergerak cepat membantu warga yang panik menyelamatkan harta benda dari rumah yang terbakar.

Peralatan pemadam kebakaran hutan yang masih tersimpan di kendaraan langsung dikeluarkan. Mesin pompa yang sebelumnya digunakan untuk memadamkan karhutla kembali dioperasikan, kali ini untuk menghadapi kebakaran permukiman. Di tengah kepulan asap dan teriakan warga, para petugas bekerja bahu-membahu dengan masyarakat sekitar.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan aksi cepat yang dilakukan personelnya merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan terhadap masyarakat yang sedang tertimpa musibah. “Sore ini Tim Manggala Agni Daops Pekanbaru setelah dari TKP Kandis diminta membantu memadamkan rumah warga. Kebakaran rumah ini merupakan kecelakaan di permukiman dan bukan dampak rembetan karhutla,” kata Ferdian, Rabu (3/6/2026).

Menurut dia, tugas Manggala Agni di lapangan tidak semata-mata terbatas pada penanganan kebakaran hutan dan lahan. Dalam kondisi darurat yang mengancam keselamatan masyarakat, personel dituntut untuk mampu merespons dengan cepat. Apa yang dilakukan tim di Kandis sore itu menjadi gambaran nyata bahwa semangat pengabdian tidak mengenal batas wilayah tugas.

Saat sebagian orang mungkin memilih beristirahat setelah sepekan bertarung dengan api di tengah hutan, para petugas justru kembali menghadapi kobaran api lain demi membantu warga yang membutuhkan pertolongan. Meski sempat mengalihkan perhatian untuk membantu kebakaran rumah, Ferdian memastikan tugas utama penanganan karhutla tetap menjadi prioritas. Setelah situasi di permukiman berhasil dikendalikan, tim dijadwalkan kembali melanjutkan operasi pendinginan lahan yang masih berlangsung di Desa Pencing Bekulo. “Meskipun hari ini membantu warga, fokus kami tidak bergeser. Besok pagi tim kembali melaksanakan penuntasan mopping up di Kandis agar situasi benar-benar aman,” ujarnya.

Di balik seragam yang dipenuhi debu dan asap, para petugas itu kembali menunjukkan bahwa tugas kemanusiaan sering kali datang tanpa jadwal. Ketika panggilan bantuan terdengar, mereka memilih berhenti, turun tangan, dan menjadi harapan bagi warga yang sedang menghadapi musibah.