Pemerintah Kota Pekanbaru bersama Satuan Tugas Pangan telah memperketat pengawasan rantai distribusi minyak goreng subsidi setelah menemukan lonjakan harga yang drastis di tingkat pedagang eceran. Langkah ini diambil guna memastikan rantai pasok dari distributor hingga ke pasar tradisional tidak lagi mengalami hambatan yang memicu kelangkaan.

Berdasarkan pemantauan mutakhir di sejumlah pasar utama, seperti Pasar Pagi Arengka dan Pasar Dupa, pasokan Minyakita kini berangsur normal. Harga jual di tingkat pedagang juga dilaporkan mulai melandai dan kembali menyentuh Harga Eceran Tertinggi atau HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 15.700 per liter.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru, Adrizal, menjelaskan bahwa inspeksi mendadak ke sarana perdagangan tradisional terus diintensifkan. Evaluasi berkala dilakukan menyusul gangguan pasokan beberapa pekan lalu yang sempat memicu kepanikan warga akibat hilangnya produk di pasaran.

Sebelumnya, penelusuran mendalam terpaksa dilakukan oleh otoritas pangan karena adanya pengecer yang nekat menjual minyak goreng program pemerintah tersebut hingga Rp 20.000 per liter. Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Indra Wijayanto, didampingi Satgas Pangan langsung melacak asal-usul barang tersebut setelah menemukan adanya praktik ambil untung berlebih di Pasar Pagi Arengka.

Investigasi di lapangan mengonfirmasi bahwa jalur distribusi sempat tidak sehat akibat adanya pasokan intermedier antar-pedagang di dalam pasar yang sama. Operasi gabungan tersebut melibatkan Kadis Perindag Yulianis, Pemimpin Wilayah Perum Bulog Riau Kepri Dani Satrio, serta Kabid Pangan DPTPH Provinsi Riau Wiwik Suryani guna memutus rantai spekulasi harga.