SAYA heran kok masih ada yang meributkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di media sosial. Niat Presiden Prabowo Subianto itu terang benderang: memberi makan anak-anak kita sendiri. Masak memberi makan anak bangsa disalahkan?

Banyak yang nyinyir dengan program ini. Mereka menyebut anggarannya terlalu besar, potensi bocor di jalan, dan logistiknya ribet. Namun, kalau menggunakan logika sederhana, semua itu masuk akal. Pertama, ini soal investasi. Anggaran MBG bukan biaya yang hangus, melainkan investasi untuk masa depan Indonesia Emas 2045.

Prabowo ingin memotong rantai kurang gizi dengan memberi makan anak-anak. Lapar membuat anak sulit belajar matematika. Selain itu, anggaran akan berputar di dalam negeri, memberikan dampak positif pada perekonomian lokal.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memastikan APBN 2026 aman dan dana pendidikan tidak akan berkurang. Program seperti PIP juga tetap akan mendapat peningkatan. Indonesia tidak akan bangkrut karena mengurus kebutuhan dasar rakyatnya.

Namun, perlunya pengawasan ketat terhadap pelaksanaan program. Hal-hal seperti markup harga, sunat menu, monopoli vendor, dan data fiktif harus diawasi dengan ketat agar uang rakyat tidak disalahgunakan. Kritik yang membangun diperlukan untuk menjaga keberlangsungan program ini.

Prabowo menegaskan pentingnya menjaga program ini agar generasi emas Indonesia tidak terlupakan. Program ini harus berjalan dengan baik dan transparan. Memastikan bahwa setiap rupiah anggaran digunakan untuk kepentingan anak-anak yang membutuhkan.

Kritik yang konstruktif diperlukan untuk memastikan program ini berjalan dengan baik tanpa adanya penyelewengan. Sebab, bagi anak-anak yang sedang tumbuh, makanan yang sehat dan bergizi jauh lebih penting daripada pertikaian politik di media sosial. Program ini harus dijalankan dengan baik demi masa depan generasi muda Indonesia.