Kabupaten Kuantan Singingi baru saja mekar pada tahun 2001. Seorang pemuda bernama Beni Aprianto mulai bekerja di kantor kelurahan setelah resmi menjadi abdi negara.

Beni merasa bosan dengan pekerjaannya di kantor kelurahan dan memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan. Pada tahun 2003, ia memutuskan untuk mencoba bertani di lahan yang didominasi oleh pohon sawit di Kuansing.

Meskipun awalnya Beni mengalami kegagalan dalam panen pertamanya, ia tidak menyerah dan terus belajar dari kesalahannya. Dengan konsistensi dan ketekunan, Beni akhirnya berhasil memperoleh hasil panen yang memuaskan dari tanaman cabe merah yang ditanamnya.

Beni terbukti ahli dalam kalkulasi dan efisiensi dalam bertani. Dengan cara-cara yang inovatif, seperti menyemai bibit sendiri dan menggunakan pupuk kompos alami, ia berhasil menekan biaya produksi hingga hanya Rp 12 ribu per batang cabe.

Dari hasil panen cabe merahnya, Beni berhasil mengumpulkan omzet kotor sebesar Rp 55 juta dengan keuntungan bersih sekitar Rp 31 juta. Keberhasilan ini jauh melebihi gaji pokoknya sebagai ASN di kantor kelurahan.

Beni menjaga stabilitas mentalnya dengan menjadi petani cabe sebagai pekerjaan sampingan. Dengan disiplin yang tinggi, ia berhasil membagi waktu antara pekerjaan di kantor kelurahan dan merawat ladang cabe miliknya.

Dengan trik-trik uniknya, seperti menggunakan kotak telur bekas untuk menangkal hama, Beni berhasil menjaga produktivitas ladangnya. Kini, permintaan akan cabe merah buatannya terus meningkat, bahkan beberapa pengelola dapur Program Makan Bergizi Gratis sudah mengikat janji pasokan rutin dengan Beni.

Beni Aprianto telah membuktikan bahwa menjadi ASN tidak menghalangi kreativitas dan menjadi petani tidak harus meninggalkan seragam korpri. Kunci kesuksesannya adalah konsistensi, ketekunan, dan kejujuran pada tanah.