Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa intensitas hujan di Provinsi Riau masih tinggi karena adanya Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di fase dua dan tiga. BMKG memprediksi musim kering baru di Riau akan merata pada akhir Mei 2026.
Suplai uap air di atmosfer Riau masih melimpah meskipun sudah memasuki masa pancaroba. Hal ini disebabkan oleh pergerakan gelombang atmosfer tropis yang membawa massa udara basah melintasi wilayah Indonesia, sehingga pertumbuhan awan hujan tetap masif di beberapa daerah.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizki Adelia, menjelaskan bahwa kehadiran MJO menjadi faktor dominan dalam peningkatan pasokan uap air di Riau. Bella menyebut MJO sebagai gelombang pembawa hujan di lapisan atmosfer.
Dinamika cuaca lokal di Riau juga dipengaruhi oleh adanya daerah belokan angin atau shearline. Kondisi ini memicu pertumbuhan awan hujan secara sporadis, meski tren curah hujan dalam tujuh hari terakhir menunjukkan penurunan.
Belokan angin di wilayah Riau mendukung potensi hujan lebat di beberapa titik tertentu. Data meteorologi menunjukkan hampir seluruh kabupaten dan kota di Riau masih memiliki potensi hujan dalam beberapa hari ke depan.
Wilayah seperti Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, dan Siak diprediksi akan mengalami intensitas hujan yang cukup sering dalam seminggu ke depan. Sementara itu, wilayah pesisir seperti Dumai dan Kepulauan Meranti cenderung lebih kering dengan potensi hujan minim.
Suhu udara di Riau selama masa transisi ini berkisar antara 22 hingga 33 derajat celsius, dengan tingkat kelembaban mencapai 99 persen. Masyarakat diminta waspada terhadap cuaca ekstrem yang mungkin terjadi tiba-tiba, terutama hujan lebat yang disertai angin kencang.
Otoritas meteorologi mengimbau warga untuk tetap waspada selama masa transisi ini dan memantau informasi resmi untuk mengantisipasi perubahan cuaca mendadak sebelum Riau memasuki puncak musim kemarau pada dasarian III Mei mendatang.