Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak memperkirakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat akibat cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Riau. Meskipun Kabupaten Siak saat ini tidak terdapat titik api, pemerintah daerah tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama di kawasan dengan ekosistem lahan gambut.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak, Novendra Kasmara, menegaskan perlunya kewaspadaan tinggi dari seluruh elemen masyarakat. Lahan gambut di sebagian besar wilayah Siak dinilai rentan terbakar apabila terpapar musim panas dalam jangka waktu yang cukup lama. “Kita semua harus selalu waspada terhadap kebakaran lahan, terutama di kampung-kampung yang didominasi oleh lahan gambut,” ujar Novendra Kasmara.

Data pemetaan teknis BPBD Siak menunjukkan bahwa terdapat 67 kampung di berbagai kecamatan yang memiliki lahan gambut cukup luas dan masuk dalam zona kerawanan tinggi terhadap bencana kebakaran. Meskipun tidak terdeteksi titik api saat ini, upaya pencegahan tetap ditingkatkan di kampung-kampung rawan tersebut.

BPBD Siak telah memerintahkan pemerintah kecamatan dan kepala kampung untuk aktif berpatroli dan melarang pembukaan lahan pertanian dengan cara dibakar. Langkah preventif ini dianggap lebih efektif dan efisien daripada penanggulangan setelah api merambat di bawah permukaan gambut.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mengonfirmasi bahwa cuaca panas di Riau dipengaruhi oleh masa peralihan menuju musim kemarau. Suhu udara di wilayah Riau fluktuatif antara 23 hingga 34 derajat Celsius, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Sinergi antara patroli darat BPBD dan kesadaran warga di 67 kampung Siak dianggap kunci pertahanan terhadap potensi karhutla. Upaya pencegahan terus dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran di wilayah tersebut.