Pemerintah Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, melakukan perluasan jaringan kemitraan dengan sektor swasta untuk menangani pemenuhan gizi buruk. Langkah ini diambil setelah data terbaru menunjukkan ribuan balita di Pekanbaru mengalami stunting. Melalui program kolaborasi lintas sektoral, badan usaha diminta untuk memberikan dana tanggung jawab sosial perusahaan langsung kepada keluarga berisiko. Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan fisik anak hingga lepas dari kondisi rawan pangan.

Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, menyatakan, “Pemerintah kota segera mendistribusikan asupan vitamin serta makanan tambahan bagi anak-anak yang teridentifikasi. Target kami adalah Pekanbaru bisa mencapai zero stunting.” Data yang dikumpulkan oleh kader Posyandu sepanjang tahun lalu menunjukkan masih ada kasus gizi buruk di beberapa kecamatan. Hal ini mendorong pemerintah daerah untuk memperketat pengawasan melalui program orang tua asuh yang melibatkan pejabat publik dan pelaku usaha.

Agung menegaskan bahwa intervensi tidak akan dihentikan sebelum seluruh balita yang masuk dalam daftar intervensi mengalami perbaikan tumbuh kembang. Evaluasi berkala akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama tim penggerak setempat untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Dia juga menambahkan, “Tidak boleh ada anak Pekanbaru yang gizinya kurang, semua harus lengkap. Ini adalah misi kemanusiaan untuk menyiapkan generasi masa depan yang tangguh.”

Selain itu, perbaikan pola asuh dan pemenuhan nutrisi harian juga mulai difokuskan pada edukasi pranikah. Pemerintah berharap masyarakat dapat ikut bergerak secara swadaya memberikan donasi asupan makanan sehat bagi lingkungan sekitar yang membutuhkan bantuan. Langkah-langkah ini diambil untuk mengatasi masalah gizi buruk dan stunting di Pekanbaru.