Listrik mati semalaman. Di tempat kami, itu cerita biasa. Gelap gulita. Rencana nonton dialog Purbaya di YouTube sejak semalam pun bubar. Baru pagi ini listrik menyala. Itu pun sempat mati lagi. Lalu hidup lagi.

Begitu layar HP menyala, saya langsung cari video itu. Sesi dialog di Jogja Financial Festival (JFF) 2026. Tempatnya di Jogja Expo Center (JEC). Acaranya sebenarnya sudah dibuka Jumat kemarin. Oleh Anggito Abimanyu, Rektor UGM Ova Emilia, dan Sri Sultan HB X. Tapi perhatian saya—dan semua orang—pasti tertuju pada sesi one on one.

Antara dua tokoh besar. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan si Anak Singkong, Chairul Tanjung alias CT. Awalnya penuh canda. CT menggoda Purbaya. Katanya, JFF ini meniru acara bentukan Purbaya tahun lalu saat masih memimpin LPS. Dulu namanya LPS Financial Festival. Kini Purbaya kembali. Tapi bajunya sudah beda. Sudah jadi Menkeu.

Diskusi mulai serius saat CT menyenggol soal komoditas. Spesifik: rencana pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Badan khusus ekspor. Purbaya buka kartu. Ide itu datang langsung dari Presiden. Pemicunya? Praktik under invoicing. Banyak eksportir nakal main kucing-kucingan. Harga ekspor di dokumen diturunkan. Atau volumenya dikurangi. Kasarnya: diselundupkan.

Purbaya sempat periksa acak 10 perusahaan CPO. Polanya ketahuan. Mau ekspor ke Amerika Serikat, tapi barangnya diputar dulu lewat Singapura. Perusahaan di Singapura itu ternyata masih grup mereka sendiri. Di sana, harga dinaikkan dua kali lipat baru dijual ke AS. Pantas saja pajak ekspor kita menyusut. Dolar hasil ekspor tertahan di luar negeri.

Presiden jengkel. Diputuskanlah bikin PT DSI. Nanti, semua eksportir wajib lewat satu pintu ini. DSI yang jual ke pasar dunia. Bersih-bersih total. Purbaya juga panggil LNSW. Sekarang mereka pakai AI. Bisa pantau harga komoditas dunia secara real-time. “Pengusaha tidak bisa bohong lagi,” kata Purbaya.

Soal Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga seru. Purbaya mengaku dapat banyak tekanan. Pebisnis nakal melobi sampai ke Istana. Sebab, skema lama bocor. Dolar masuk ke bank lokal, tapi cepat dialirkan ke bank kecil, lalu kabur lagi ke luar negeri. Dolar kita habis. Padahal ekspor surplus. Sekarang tidak bisa. DHE wajib parkir di bank Himbara. Pengawasannya satu komando. “Kalau bank Himbara main-main, bisa langsung kami pecat,” tegas Purbaya.

Maka Purbaya santai saja. Dia bahkan meminta masyarakat yang simpan dolar untuk segera menjualnya. Pemerintah optimistis bisa dorong Rupiah ke Rp 15.000. Lalu, bagaimana dengan isu utang dan krisis? Purbaya tersenyum. Pekan ini, Kemenkeu baru saja rilis global bond sebesar US$ 3,4 miliar. Laris manis. Investor asing berebut. “Di dalam negeri ribut mau krisis, tapi investor asing tetap percaya,” ujarnya. Yield tidak naik. Itu bukti ekonomi kita kuat.

CT kemudian menyampaikan keluhan pasar. Kok harga kebutuhan terasa mahal, padahal inflasi katanya rendah? Daya beli turun? Purbaya langsung tertawa. Dia punya istilah baru: Ekonomi TikTok. Menurutnya, narasi daya beli hancur itu cuma ramai di media sosial. Korban analisis ekonom TikTok. Bahkan, CT pun dianggapnya ikut kepengaruh. Purbaya lalu menyodorkan data April. Penjualan mobil naik 55 persen. Motor tumbuh 28 persen. Konsumsi semen naik 36,6 persen. Listrik dan BBM juga naik. “Artinya konsumsi masyarakat masih kuat,” kata Purbaya.

Dia tidak hanya percaya angka di atas kertas. Purbaya blusukan langsung ke Pasar Beringharjo di Jogja dan Pasar Tanah Abang di Jakarta. Hasilnya? Ramai-ramai saja. Bagaimana dengan defisit APBN? Sempat ada ketakutan bakal jebol di atas 3 persen. Purbaya kalem. Lonjakan di awal tahun itu karena belanja yang ditarik ke depan. Per April, defisit sudah turun ke angka 0,64 persen. Kuncinya ada di sistem Coretax. Sistem baru yang bikin pengawasan pajak makin ketat. Begitu bayar, data otomatis masuk. Yang bohong langsung kelihatan.

Purbaya menegaskan, penerimaan pajak naik bukan karena dia menaikkan tarif. Apalagi karena “nyolong uang”. Tapi karena sistemnya makin bersih. Dengan modal itu, target pertumbuhan ekonomi 8 persen dirasa masuk akal. Bukan mimpi. Pemerintah juga melonggarkan likuiditas. Dana Rp 200 triliun dipindahkan ke perbankan agar kredit mengalir ke sektor riil. Izin investasi yang mampet juga disikat lewat Satgas Debottlenecking. Contohnya investasi migas di Indonesia Timur senilai US$ 22 miliar.

Bertahun-tahun mandek, di tangan Satgas selesai dalam satu kali sidang. Di akhir sesi, CT tanya soal nasib IHSG yang sempat loyo. Purbaya sangat optimistis. Dalam jangka panjang, IHSG bisa naik 4 sampai 5 kali lipat. Periode 2028-2030 dinilai akan menjadi masa keemasan. “Selama saya jadi Menkeu, fondasi ekonomi akan terus membaik. Jadi tidak usah takut,” pungkasnya. Saya menutup laptop. Di luar, matahari pagi mulai meninggi. Cerita dari JEC ini setidaknya memberi rasa optimis. Ternyata, ekonomi kita tidak seburuk yang digambarkan video-video pendek berlatar musik sedih di beranda TikTok kita. Semoga PLN di tempat kami tidak mati-mati lagi.