Angka kelahiran di Provinsi Riau turun dan mendekati tingkat penggantian penduduk. Menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, Total Fertility Rate (TFR) di Riau mencapai 2,21.

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menyatakan bahwa terjadi pergeseran pola kelahiran di Riau. Angka kelahiran pada remaja menurun drastis, namun meningkat pada kelompok usia 30-44 tahun.

Usia subur perempuan di Riau masih terpusat pada kelompok 25-29 tahun. Fenomena menunda kehamilan diduga terkait dengan peningkatan akses pendidikan dan kesadaran kesehatan.

Data SUPAS 2025 menunjukkan perbedaan angka kelahiran antar-kabupaten dan kota di Riau. Kota Pekanbaru memiliki angka kelahiran terendah, sementara Kabupaten Bengkalis tertinggi.

Kesenjangan juga terlihat pada Angka Kematian Bayi (IMR) di Riau. Meskipun secara umum berhasil menekan angka kematian bayi, Kabupaten Kepulauan Meranti masih menghadapi tantangan besar.

Prevalensi kontrasepsi di Riau mencapai 57,46%, menjangkau lebih dari separuh pasangan usia subur. Angka Kelahiran Kasar (CBR) turun menjadi 17,42 per 1.000 penduduk.

Pemerintah Provinsi Riau diharapkan menggunakan data statistik ini untuk merancang kebijakan pembangunan manusia yang lebih presisi. Tujuannya adalah untuk pemerataan fasilitas kesehatan di wilayah pesisir dan kepulauan.

Data Statistik Vital Riau menunjukkan angka-angka penting terkait kelahiran, kematian, dan prevalensi kontrasepsi. Semua ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih efektif untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk Riau.