Pemerintah Provinsi Riau terus mempercepat upaya penurunan angka stunting sebagai bagian dari target pembangunan daerah. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Riau masih berada di angka 20,1 persen. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, yang menegaskan bahwa angka tersebut harus segera ditekan agar mencapai target 17 persen pada tahun 2026.

Target penurunan angka stunting ini telah tertuang dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah dan menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mendukung program nasional. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah daerah mendorong penguatan intervensi lintas sektor, termasuk peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, edukasi gizi kepada masyarakat, serta perbaikan sanitasi lingkungan.

Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada tantangan sosial yang masih dihadapi di lapangan. Guru Besar Gizi Masyarakat Poltekkes Kemenkes Riau, Aslis Wirda Hayati, menyoroti adanya stigma terhadap anak yang teridentifikasi stunting. Menurutnya, label negatif tersebut kerap membuat anak dan keluarga enggan datang ke posyandu, sehingga berpotensi menghambat proses pemantauan dan penanganan gizi.

Aslis Wirda Hayati menekankan pentingnya pendekatan yang lebih humanis dan edukatif oleh tenaga kesehatan, khususnya ahli gizi. Menurutnya, penanganan stunting tidak hanya soal intervensi medis, tetapi juga menyangkut aspek psikologis dan sosial keluarga. Dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan penurunan stunting di Riau dapat tercapai secara optimal tanpa menimbulkan stigma, sehingga kualitas kesehatan anak-anak dapat meningkat secara menyeluruh.