Presiden Prabowo hobi jalan-jalan ke luar negeri dan dianggap boros anggaran oleh sebagian pihak. Namun, menurut narasi yang disampaikan, Prabowo sedang menjalankan tugas untuk menaruh Indonesia kembali di peta persaingan global sebagai pemain utama.

Dalam kunjungan perdananya, Prabowo berhasil membawa pulang total komitmen investasi lebih dari USD 18,5 Miliar atau sekitar Rp294 Triliun.

Di Tiongkok (Beijing), Prabowo menyaksikan penandatanganan kesepakatan senilai USD 10,07 Miliar yang masuk ke sektor manufaktur canggih, energi terbarukan, dan ketahanan pangan.

Kunjungan ke Amerika Serikat (Washington D.C.) tidak hanya soal angka, tapi juga dukungan dari raksasa teknologi dan energi. AS mengakui peran strategis Indonesia terutama dalam hilirisasi mineral kritis untuk baterai kendaraan listrik.

Di Inggris (London), Prabowo membawa pulang komitmen investasi sebesar USD 8,5 Miliar, dengan rincian USD 7 Miliar dari British Petroleum (BP) untuk proyek gas alam dan energi rendah karbon.

Di Jepang & Korea Selatan, Prabowo berhasil mengamankan komitmen investasi masing-masing sebesar USD 23,6 Miliar dan USD 10,2 Miliar untuk berbagai sektor seperti transisi energi, industri otomotif, dan pengembangan teknologi AI.

Total angka komitmen investasi yang berhasil didapat mencapai Rp860 Triliun, menunjukkan keberhasilan diplomasi Prabowo dalam menjalin kerja sama dengan negara-negara tersebut.

Dalam bisnis global, kepercayaan (trust) menjadi mata uang utama, dan Prabowo telah membangunnya melalui pertemuan tatap muka dengan para pemimpin dunia.

Kritik terhadap tindakan Prabowo adalah hak, namun menutup mata pada fakta-fakta yang ada hanya akan merugikan. Prabowo telah membuktikan bahwa investasi dalam diplomasi adalah langkah yang tepat untuk memajukan Indonesia.