Jemaah haji asal Provinsi Riau yang tergabung dalam Kelompok Terbang BTH 03 terancam pulang tanpa koper mereka jika nekat menyelundupkan air zamzam ke dalam bagasi. Ketatnya pemeriksaan pemindai sinar-X di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, membuat koper yang terindikasi berisi cairan akan langsung dibongkar dan ditahan oleh otoritas penerbangan Arab Saudi.

Proses pemulangan jemaah haji Riau sendiri dijadwalkan bergulir mulai 4 Juni 2026. Pemerintah daerah meminta jemaah sepenuhnya mematuhi regulasi penerbangan internasional agar tidak memicu keterlambatan massal saat pemulangan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Defizon, menjelaskan, pemeriksaan bagasi di bandara Arab Saudi saat ini menggunakan teknologi tinggi yang mampu mendeteksi keberadaan cairan sekecil apa pun. Jika petugas menemukan air zamzam di dalam koper, dampaknya tidak hanya merugikan pemilik koper, tetapi juga menghambat seluruh proses distribusi bagasi kloter tersebut.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah menyiapkan jatah air zamzam resmi bagi setiap jemaah setibanya di Tanah Air. Oleh karena itu, jemaah tidak perlu lagi memaksakan diri memasukkan cairan tersebut ke dalam tas kabin ataupun koper besar.

Di sisi lain, panitia juga menerapkan skema khusus untuk meringankan beban jemaah lanjut usia selama proses kepulangan di bandara. Petugas akan mengumpulkan koper kecil atau tas kabin milik jemaah lansia lebih awal untuk dimasukkan langsung ke bagasi pesawat sebelum mereka melewati gerbang imigrasi.

Langkah taktis ini diambil agar jemaah lansia dapat berjalan dengan leluasa tanpa harus menenteng beban berat di area bandara. Meski demikian, batas maksimal berat tas kabin sebesar 7 kilogram tetap berlaku.

Sehubungan dengan kebijakan tersebut, Defizon mengingatkan agar dokumen penting, telepon genggam, uang tunai, dan obat-obatan rutin tidak dimasukkan ke dalam tas kabin yang akan didelegasikan ke bagasi. Semua barang vital tersebut wajib dialihkan ke dalam tas paspor yang melekat pada tubuh jemaah selama perjalanan.

Pendamping jemaah dan ketua rombongan diminta bergerak aktif menyisir bawaan para lansia sebelum tas mereka dikumpulkan oleh petugas maskapai. Koordinasi yang solid di tingkat kelompok terbang diharapkan mampu meminimalkan risiko kehilangan barang berharga serta menjaga ketepatan waktu penerbangan menuju Indonesia. (Bil)