Kuansing, Riau – Surat sakti Nomor 01-003/A/MK-GERINDRA/2025 tertanggal 17 Januari 2025 yang ditandatangani oleh Habiburrokhman dan M. Maulana Bungaran telah menyatakan bahwa tidak ada sengketa di Mahkamah Partai. Gugatan Juprizal telah diabaikan, sehingga dapat dikatakan bahwa masalah tersebut telah selesai dan selesai.
Surat Keputusan (SK) DPP Gerindra Nomor 10-0654/KPTS/DPP-Gerindra/2024 yang diteken oleh Prabowo Subianto seharusnya telah membuka jalan bagi Reky Fitro sejak awal tahun secara administratif. Namun, Juprizal masih menjabat sebagai Ketua DPRD Kuansing hingga saat ini, memegang kendali di sidang.
Sekretaris DPC Gerindra Kuansing, Imrialis, mengungkapkan keheranannya terhadap ketahanan Juprizal dalam menjaga posisinya sebagai Ketua DPRD Kuansing. Namun, situasi berubah ketika Bupati Suhardiman Amby, yang sebelumnya melindungi Juprizal, ditangkap oleh KPK dalam kasus suap jual-beli jabatan.
OTT KPK terhadap Bupati Suhardiman Amby dianggap sebagai titik balik bagi Reky Fitro, yang ditunjuk sebagai Ketua DPC Gerindra Kuansing setelah Suhardiman Amby didepak. Badai politik ini diharapkan akan membuka jalan bagi Reky Fitro untuk dilantik sebagai Ketua DPC Gerindra Kuansing.
Peta kekuatan di DPRD Kuansing berubah setelah OTT KPK terhadap Bupati Suhardiman Amby. Faksi-faksi yang sebelumnya mendukung Juprizal mulai goyah, meninggalkan Juprizal sendirian di tengah permainan politik.
DPC Gerindra Kuansing di bawah pimpinan Reky Fitro berencana memanfaatkan momentum ini untuk mengamankan posisinya. Mereka memiliki surat Mahkamah Partai dan SK Prabowo, serta penghalang utama mereka, yaitu Bupati Suhardiman Amby, sudah tidak lagi menjadi pertahanan bagi Juprizal.
OTT Bupati diharapkan akan mempercepat mundurnya Juprizal dari kursi Ketua DPRD Kuansing. Reky Fitro dan timnya siap untuk memanfaatkan situasi ini untuk mempercepat agenda mereka.
Dengan perubahan kekuatan politik di DPRD Kuansing, penantian untuk pelantikan Reky Fitro sebagai Ketua DPC Gerindra semakin dekat. Semua pihak menantikan hasil dari pertarungan politik ini, sambil menunggu ketukan palu terakhir.