SMA Islam Terpadu (IT) Tahfizh Al-Fatih Pekanbaru mengintegrasikan model kurikulum berbasis Fitrah Based Education (FBE) dengan kurikulum nasional sebagai solusi pendidikan di tengah tantangan degradasi moral dan tuntutan kualifikasi industri masa depan. Hal ini tidak hanya bertujuan mencapai prestasi akademik, tetapi juga mengembalikan jati diri siswa sesuai fitrah penciptaan.

Kepala SMA IT Tahfizh Al-Fatih Pekanbaru, Ustaz Ilham Dwitama Haeba, menyatakan bahwa dunia pendidikan sering kali terjebak dalam standar yang kaku dan menyamaratakan potensi setiap anak. Menurutnya, setiap anak memiliki keunggulan yang berbeda dan perlu dikembangkan sesuai potensinya masing-masing.

Ustaz Ilham juga menegaskan bahwa pendidikan di SMA IT Tahfizh Al-Fatih harus mampu menemukan serta menumbuhkan kekuatan fitrah yang dimiliki siswa, bukan hanya berorientasi pada angka dan nilai. Paradigma Fitrah Based Education (FBE) diharapkan mampu menciptakan ekosistem kelas yang aman secara psikologis.

Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMA IT Tahfizh Al-Fatih Pekanbaru, Ustaz Muhammad Alde Putra, menjelaskan bahwa pendidikan sejatinya bertujuan menumbuhkan potensi yang telah dimiliki anak sejak lahir. Pada jenjang SMA, pembinaan difokuskan pada fitrah seksualitas dan profesi agar peserta didik dapat memahami peran sosial dan menemukan jalan pengabdian terbaik.

Dalam era digitalisasi dan tuntutan kurikulum yang semakin padat, dunia pendidikan kembali melirik konsep fundamental dalam mendidik manusia melalui Fitrah Based Education. Ustaz Alde menekankan bahwa pendekatan ini mengajak guru untuk menjadi penjaga fitrah yang menumbuhkan potensi unik setiap murid.

Peran orang tua juga diakui penting dalam mengembalikan dan menjaga fitrah anak. Karena setiap anak lahir dengan fitrah kebaikan yang perlu dipelihara dan disuburkan. Dengan demikian, integrasi kurikulum berbasis Fitrah Based Education di SMA IT Tahfizh Al-Fatih Pekanbaru diharapkan dapat memberikan pendidikan yang holistik dan mengembangkan potensi siswa sesuai dengan fitrahnya.