Starbucks melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan memangkas sekitar 300 posisi pegawai korporat di Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi efisiensi dan transformasi bisnis perusahaan. PHK dilakukan terhadap pegawai yang bekerja di kantor pendukung regional di AS. Starbucks juga akan mengonsolidasikan sejumlah kantor regional, termasuk menutup beberapa fasilitas di Atlanta, Burbank, Chicago, dan Dallas.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan melalui penyederhanaan struktur organisasi dan pengurangan biaya. Starbucks menyatakan, “Langkah ini bertujuan mempertajam fokus perusahaan, memprioritaskan pekerjaan, mengurangi kompleksitas, dan menekan biaya.”
PHK terbaru ini menjadi bagian dari rangkaian restrukturisasi yang dilakukan sejak program transformasi perusahaan dimulai pada akhir 2024. Sebelumnya, Starbucks juga telah memangkas sekitar 1.100 pegawai korporat pada Februari 2025.
Di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol, Starbucks menjalankan strategi transformasi bisnis dengan fokus pada peningkatan operasional gerai, termasuk penambahan tenaga barista dan peningkatan layanan pelanggan. Meski penjualan dilaporkan mengalami pertumbuhan terbaik dalam lebih dari dua tahun pada kuartal sebelumnya, margin laba operasional Starbucks turun hampir 50 persen sejak program transformasi dimulai.
Starbucks memperkirakan akan mengeluarkan sekitar 120 juta dolar AS untuk pembayaran pesangon bagi pegawai terdampak PHK. Selain itu, perusahaan juga mencatat penurunan nilai buku aset properti sebesar 280 juta dolar AS, terutama terkait lokasi reserve, roastery, dan sejumlah fasilitas pendukung nonritel.
Di tengah langkah efisiensi tersebut, Starbucks bulan lalu mengumumkan investasi sebesar 100 juta dolar AS untuk memperluas operasional di wilayah Tenggara AS, termasuk pembangunan kantor pendukung baru di Nashville, Tennessee, yang diproyeksikan menampung sekitar 2.000 pegawai dalam lima tahun mendatang.