SELATPANJANG, SERANTAU MEDIA – Perang Air Cian Cui kembali digelar di Jalan Merdeka, Selatpanjang, pada Selasa (17/2) sore. Festival ini berhasil menyedot ribuan warga dari berbagai penjuru Kepulauan Meranti. Ember, gayung, hingga pistol air menjadi “senjata” andalan yang digunakan dalam festival ini. Anak-anak, remaja, orang tua, bahkan pejabat daerah, larut dalam tradisi saling siram yang telah menjadi ciri khas perayaan ini. Tak ada yang boleh marah ketika basah kuyup—karena air dalam Cian Cui adalah simbol sukacita, keberuntungan, dan kebersamaan.
Bupati Kepulauan Meranti, Kombes Pol (Purn) Asmar, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga strategi untuk memperkenalkan identitas budaya daerah ke panggung nasional. Menurutnya, festival ini merupakan momentum mempererat persatuan lintas suku dan agama, terlebih Imlek tahun ini berdekatan dengan Ramadan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dan kebersihan selama perayaan berlangsung.
Kehormatan melepas rombongan peserta perang air diberikan kepada Kapolda Riau, Irjen Pol. Herry Heryawan. Dalam sambutannya, Kapolda Riau menekankan bahwa pelestarian budaya harus selaras dengan kepedulian terhadap lingkungan. Wilayah Meranti, yang dikelilingi ekosistem mangrove sebagai benteng alami pesisir, memerlukan perhatian bersama. Melalui program Green Policing, kepolisian mendorong masyarakat menjaga keamanan sekaligus kelestarian alam.
Menurut Kapolda Riau, Festival Cian Cui mencerminkan kekuatan tradisi dalam menyatukan masyarakat melalui harmoni kehidupan yang selaras dengan alam dan semangat gotong royong. Sore itu, ketika matahari mulai turun di ufuk Selatpanjang, jalanan masih basah. Namun yang lebih terasa adalah hangatnya kebersamaan. Di antara cipratan air dan tawa yang membahana, Perang Air Cian Cui kembali membuktikan diri sebagai denyut nadi budaya Meranti—tradisi yang tak sekadar membasahi tubuh, tetapi juga menyatukan hati.
Perang Air Cian Cui berakar dari tradisi masyarakat Tionghoa di Selatpanjang yang telah berlangsung sejak awal abad ke-20. Dalam dialek Hokkien, Cian Cui berarti “percik air”. Awalnya, ritual ini digelar pada hari keenam hingga kesembilan perayaan Tahun Baru Imlek sebagai simbol membuang sial dan menyambut rezeki. Warga saling memercikkan air sebagai doa agar tahun yang baru membawa keberkahan dan kesejahteraan.
Sejak 2013, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menetapkan Festival Perang Air Cian Cui sebagai agenda budaya tahunan. Bahkan kini, festival ini telah masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN), memperkuat posisinya sebagai daya tarik wisata nasional. Dengan demikian, Festival Perang Air Cian Cui tidak hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi juga sebagai wahana untuk mempererat persatuan lintas etnis dan memperkenalkan budaya daerah ke tingkat nasional.