Pertengahan Ramadan menjadi momen yang dinanti-nanti oleh banyak orang, bukan hanya untuk takjil gratis, tetapi untuk munculnya Hilal Rekening. Para karyawan sibuk dengan aktivitas “astronomi m-banking” saat para astronom sibuk memantau bulan. Mata mereka nanar menatap layar ponsel, berharap muncul notifikasi yang menandakan dana Tunjangan Hari Raya (THR) sudah diterima dengan selamat. Kondisi keuangan banyak orang saat ini berada dalam fase “Kritis-tianity”, di mana dompet sudah sangat tipis.
THR kini memiliki makna yang lebih luas, yaitu Tagihan Harus Rampung (THR), sebuah momen di mana uang masuk ke rekening namun langsung digunakan untuk membayar cicilan, pinjol, dan utang ke teman. Fenomena lain yang muncul adalah Teman Hadir Reuni (THR), di mana grup WhatsApp yang sudah tidak aktif tiba-tiba menjadi ramai karena ajakan bukber di restoran.
Menerima THR seperti naik roller coaster emosional, dimulai dari fase Euforia-isme di mana seseorang merasa sangat kaya. Namun, fase ini segera berganti menjadi Zakat-ul Fitnah, di mana seseorang menyadari bahwa jumlah keponakan lebih cepat bertambah daripada bunga bank. Konflik juga muncul saat urusan mudik dimulai, dengan harga tiket transportasi yang melambung tinggi.
Saldo THR yang awalnya berlimpah perlahan-lahan terkikis saat Open House di kampung halaman, di mana seseorang harus membuka dompet untuk memberi uang. Di bulan “Mei-nghemat”, seseorang harus belajar untuk hemat karena keterbatasan dana. Kesimpulannya, THR ibarat mantan yang datang dengan harapan besar namun pergi meninggalkan kenangan pahit dan saldo nol.
Meskipun demikian, yang penting stok opor masih tersedia di kulkas dan status WhatsApp terlihat bahagia. Selamat menikmati “numpang lewat”-nya THR!