Puasa Ramadhan telah kembali ke ‘pangkuan’ Ilahi Rabbi. Segala kemewahan amaliah di bulan penuh berkah, yang berbalut pahala, kini telah usai. Allah SWT mewajibkan puasa bagi orang-orang beriman bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa selalu ada yang Maha Mengawasi, yaitu Allah SWT.
Seorang mukmin yang berkumur di siang hari Ramadhan akan mengeluarkan kembali air yang ada di mulutnya, tanpa menelannya sedikit pun. Padahal, tidak ada seorang pun yang akan tahu jika ia menelannya, termasuk orang yang berada di sampingnya. Mengapa ia begitu taat? Karena ia yakin ada yang mengawasi. Dialah Allah SWT.
Keyakinan dalam hati bahwa Sang Maha Pengawas selalu melihat setiap perbuatan dan gerak-geriknya membuat seseorang tetap berada di jalan yang lurus dan tidak menyimpang dari aturan-Nya. Bahkan, ia percaya bahwa Allah tidak hanya mengetahui apa yang tampak, tetapi juga yang tersembunyi. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-A’la ayat 7: “Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”
Pengawasan memiliki pengaruh besar dalam menertibkan perilaku seseorang. Mahasiswa yang sedang ujian akan menunjukkan tingkat kedisiplinan yang berbeda jika dosennya berada di kelas. Pekerja perkebunan akan bekerja lebih optimal jika pemiliknya ada di lokasi. Pengguna jalan raya akan lebih patuh ketika ada polisi yang berjaga. Seorang pejabat publik pun akan lebih berhati-hati dalam bekerja jika ada lembaga yang mengauditnya.
Begitu pula dengan seorang mukmin yang menjalankan puasa Ramadhan. Puasa seharusnya membentuk keyakinan bahwa ada “CCTV” pengawasan dari Sang Maha Pengawas, Allah SWT. Dengan kesadaran ini, setiap mukmin akan senantiasa berusaha berbuat lurus dan menjauhi segala bentuk penyimpangan, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Dr. H. Erman Gani, MA, Dosen UIN Suska Riau / Sekretaris MUI Kota Pekanbaru, menegaskan pentingnya pengawasan Ilahi dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut beliau, kesadaran akan pengawasan Allah akan membimbing umat Islam untuk tetap teguh dalam menjalankan aturan-Nya, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Dengan demikian, puasa Ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga sebagai bentuk pengabdian dan kesadaran akan pengawasan Ilahi. Semoga dengan kesadaran ini, umat Islam dapat terus memperbaiki diri dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam menjalani ibadah sehari-hari.