Sejumlah tokoh Riau memberikan pandangan terhadap buku autobiografi Brigjen TNI (Purn) H. Saleh Djasit berjudul Jalan Hidup Anak Pujud yang baru saja diluncurkan di Balai Adat LAMR Provinsi Riau pada Rabu, 15 April 2026. Testimoni tersebut datang dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga tokoh adat, yang menilai sosok Saleh Djasit memiliki karakter kepemimpinan kuat dan berakar pada nilai-nilai Melayu.
Almarhum Dr. drh. H. Chaidir, MM, yang menjabat Ketua FKPMR periode 2019–2025, menggambarkan Saleh Djasit sebagai pemimpin yang rendah hati. Menurutnya, citra sebagai sosok yang humble telah melekat kuat tanpa dibuat-buat dan menjadi bagian dari kepribadian Saleh Djasit. “Kerendahan hati itu sudah terpatri dalam setiap tarikan napas beliau,” demikian pandangan Chaidir dalam testimoni yang dituliskan.
Prof. Dr. Muchtar Ahmad, M.Sc., Rektor Universitas Riau periode 1997–2006, menyoroti pentingnya peran kaum intelektual dalam pembangunan Riau. Ia menyebut, sejak awal berdirinya, Riau digagas oleh kalangan intelektual yang dipelopori Raja Ali Haji. Pesan tersebut, kata dia, juga pernah disampaikannya kepada Saleh Djasit agar pembangunan daerah tidak terlepas dari kontribusi kaum intelektual.
Ketua Umum MKA LAM Riau, Datuk Seri Raja Marjohan Yusuf, menilai Saleh Djasit sebagai figur penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, banyak pihak memandang Saleh Djasit sebagai peletak dasar pembangunan di Bumi Lancang Kuning. Ia juga berharap Saleh Djasit senantiasa diberikan kesehatan agar terus dapat berkontribusi bagi Riau.
Pandangan lain disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau, Dr. Saidul Amin, MA. Ia melihat adanya panggilan moral dalam diri Saleh Djasit untuk memadukan nilai keislaman dengan kearifan lokal Melayu. Menurutnya, gagasan tersebut tercermin dalam upaya membangun peradaban Melayu yang gemilang di Riau.
Rangkaian testimoni ini memperkaya isi buku Jalan Hidup Anak Pujud yang tidak hanya memuat perjalanan hidup, tetapi juga pandangan tokoh-tokoh terhadap sosok Saleh Djasit.