Penentuan hari raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pada tahun 2026 kembali menimbulkan perbedaan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam, terutama Muhammadiyah. Perbedaan ini diprediksi akan terjadi seperti pada penetapan awal Ramadhan tahun ini.
Pemerintah dan Muhammadiyah memiliki perbedaan pendapat terkait metode hisab dalam menentukan hari raya Idul Fitri. Pemerintah menggunakan hisab secara global, sementara Muhammadiyah lebih cenderung menggunakan hisab lokal.
Ketua Bidang Hisab dan Rukyat PP Muhammadiyah, Ahmad Basarah, mengungkapkan bahwa perbedaan pendapat ini terjadi karena adanya perbedaan metode perhitungan. Menurutnya, Muhammadiyah lebih memilih menggunakan metode hisab yang lebih akurat dan sesuai dengan kondisi lokal di Indonesia.
Sementara itu, Kementerian Agama tetap pada pendiriannya untuk menggunakan hisab global dalam menetapkan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini dilakukan agar kesepakatan awal bisa diikuti oleh seluruh umat Islam di Indonesia.
Perbedaan pendapat antara pemerintah dan Muhammadiyah ini memicu kebingungan di kalangan umat Islam. Beberapa pihak mengharapkan adanya kesepakatan yang lebih bersatu dalam menentukan hari raya Idul Fitri.
Menurut Ahmad Basarah, Muhammadiyah tidak ingin terburu-buru dalam menetapkan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Mereka lebih memilih untuk memastikan keakuratan perhitungan agar tidak terjadi perbedaan yang bisa membingungkan umat Islam.
Meskipun terdapat perbedaan pendapat, baik pemerintah maupun Muhammadiyah tetap berkomitmen untuk menjaga persatuan umat Islam. Kedua belah pihak sepakat bahwa perbedaan pendapat ini tidak boleh memecah belah umat.
Pihak-pihak terkait diharapkan dapat mencapai kesepakatan dalam waktu dekat agar penentuan hari raya Idul Fitri 1447 Hijriyah dapat dilakukan secara bersama-sama. Hal ini diharapkan dapat menghindari kebingungan di kalangan umat Islam terkait penentuan hari raya.