AIPDA Vicky Aristo Katiandagho, mantan Kanit Tipidkor di Polres Minahasa, menjadi sorotan karena tugas beratnya mengusut korupsi tas belanja senilai Rp2,2 miliar dana desa. Namun, di tengah jalan, Vicky dimutasi ke Kepulauan Talaud di perbatasan (who, what).
Vicky merasa ada yang janggal dan menyurat ke Kapolri tanpa mendapat jawaban, akhirnya memilih untuk mundur dan meninggalkan seragam polisi. Saat ini, ia lebih memilih menjual kopi karena merasa lebih tenang daripada tunduk pada “penjilat” (why, how).
Kisah Vicky ini menarik karena membuktikan bahwa polisi jujur masih ada, meskipun sering terjepit dalam situasi sulit. Banyak dari kita sering menghujat polisi dan mem-bully mereka di media sosial, namun sebenarnya tidak semua polisi bersikap tidak jujur (why).
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita juga menjadi “guru” korupsi bagi polisi, contohnya saat terkena tilang di jalan raya namun malas untuk mengurus surat tilang (why). Kita sering mencari jalan pintas dengan menawarkan uang kepada oknum polisi untuk menghindari konsekuensi dari pelanggaran yang kita lakukan (why).
Polisi seperti Vicky merupakan cermin kejujuran yang seringkali terancam oleh sistem atau godaan yang kita tawarkan sendiri (why). Perubahan yang diinginkan harus datang dari dua arah, dari atas ke bawah dan dari kita sebagai warga biasa kepada petugas di lapangan (why).
Vicky telah membuktikan integritasnya dengan memilih menjual kopi daripada melepas harga dirinya dengan menerima suap (how). Kini, tanggung jawab ada pada kita untuk memilih apakah terus menyalahkan polisi atau belajar untuk jujur dalam setiap situasi, termasuk saat terkena tilang di pinggir jalan (how).
Perubahan yang diinginkan harus dimulai dari diri sendiri, agar polisi jujur tidak harus berakhir menjadi pedagang kopi (why). Dengan begitu, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan jujur, tanpa adanya tawaran suap atau jalan pintas dalam setiap tindakan yang kita lakukan (why).