Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mendeteksi kemunculan 62 titik panas atau hotspot yang tersebar di wilayah Pulau Sumatera pada Selasa (24/2/2026). Dari total sebaran tersebut, Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Mari Frystine, menjelaskan bahwa puluhan titik panas tersebut terdeteksi di enam provinsi.

Berdasarkan pantauan satelit, Aceh mencatat sebanyak 36 titik, diikuti oleh Riau dengan 13 titik. “Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 62 titik,” ujar Mari Frystine dalam keterangan resminya. Selain Aceh dan Riau, titik panas juga terdeteksi di Sumatera Barat dan Sumatera Utara dengan masing-masing enam titik. Sementara wilayah Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung masing-masing mencatatkan satu titik panas.

Khusus untuk wilayah Riau, 13 titik panas tersebut tersebar di lima kabupaten dan kota. Rinciannya meliputi Kabupaten Bengkalis 5 titik, Kabupaten Pelalawan 4 titik, Kota Dumai 2 titik, Kabupaten Rokan Hulu 1 titik, Kabupaten Siak 1 titik. Mari Frystine menegaskan, kemunculan titik panas ini merupakan indikator awal adanya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal ini didasarkan pada sensor satelit yang menangkap suhu permukaan bumi yang lebih tinggi dibandingkan area di sekitarnya. Mengingat kondisi cuaca yang mulai memasuki periode kering, BMKG meminta pemerintah daerah serta instansi terkait untuk memperketat pengawasan. Mitigasi dini dan peningkatan intensitas patroli di lapangan menjadi kunci agar titik panas tersebut tidak berkembang menjadi kebakaran besar.

“Kami mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah yang terdeteksi memiliki titik panas,” kata Mari Frystine. Menurut Frystine, titik panas yang muncul menjadi peringatan dini akan potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera. Itu sebabnya, BMKG meminta semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah mitigasi dini.