Pemerintah Provinsi Riau mengalokasikan anggaran sebesar Rp 62 miliar untuk program beasiswa pada tahun anggaran 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Bumi Lancang Kuning.
Rencana penyaluran bantuan pendidikan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto dalam acara Try Out Akbar Menuju Kampus yang Kamu Impikan (Tanjak) di Pekanbaru, Kamis (26/2/2026).
“Pemprov Riau telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 62 miliar untuk program Beasiswa Riau dengan total sasaran sebanyak 3.644 mahasiswa,” ujar SF Hariyanto.
Menurut SF Hariyanto, investasi di sektor pendidikan ini merupakan strategi jangka panjang pemerintah daerah untuk menekan angka pengangguran. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, generasi muda Riau diharapkan memiliki keahlian yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
Ia menekankan pentingnya bagi pelajar untuk terus melanjutkan pendidikan sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. Hal ini diyakini akan berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Riau di masa depan.
Selain sektor pendidikan formal, Pemprov Riau juga fokus pada penguatan akses keuangan bagi pelajar. Melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar), saat ini tercatat sebanyak 1.293.997 pelajar di Riau telah memiliki rekening tabungan.
“Angka tersebut mencapai sekitar 89 persen dari target total 1.459.227 pelajar. Ini menjadi fondasi penting dalam mendukung penggunaan transaksi digital yang aman dan bertanggung jawab,” kata SF Hariyanto.
Ia mengakui bahwa generasi saat ini sudah sangat akrab dengan ekosistem digital, mulai dari penggunaan dompet digital hingga investasi pada instrumen saham dan reksa dana. Namun, kemajuan teknologi tersebut harus diimbangi dengan kecerdasan finansial yang berbasis pada literasi yang benar.
Di akhir keterangannya, SF Hariyanto juga mengingatkan pentingnya menjaga kedaulatan bangsa melalui penggunaan mata uang rupiah dalam setiap aktivitas ekonomi.
“Rupiah bukan sekadar alat transaksi, melainkan simbol kedaulatan bangsa yang harus kita cintai dan pahami,” tuturnya.