Pedagang Pakaian Tradisional Hadapi Tantangan Digital

Pekanbaru – Transformasi digital dan pergeseran pola konsumsi masyarakat dari belanja konvensional ke digital telah menimbulkan tantangan signifikan bagi kelangsungan usaha pedagang pakaian di pasar tradisional. Pedagang busana konvensional di Sukaramai Trade Centre, Pekanbaru, menghadapi penurunan omzet yang drastis akibat pergeseran perilaku konsumen ke belanja online.

Para pedagang di Sukaramai Trade Centre, Pekanbaru, berupaya mempertahankan usaha mereka dengan melakukan pembaruan usaha mengikuti tren model terbaru dan meningkatkan pelayanan kepada pembeli. Mereka juga mengandalkan modal sosial seperti kepercayaan, norma sosial, dan strategi jaringan.

Untuk tetap bertahan, pedagang konvensional harus mengadopsi model bisnis hybrid, meningkatkan pelayanan langsung, dan memanfaatkan modal sosial seperti kepercayaan pelanggan lokal. Meskipun penjualan online semakin diminati, pedagang di Sukaramai Trade Centre tetap optimis menjalankan usaha mereka.

Murningsih, seorang pedagang pakaian di pasar tradisional tersebut, mengungkapkan bahwa penjualannya masih cukup stabil meskipun lebih banyak konsumen beralih ke belanja online. Dengan penjualan harian mencapai Rp750 ribu dan keuntungan bersih sekitar Rp500 ribu, ia yakin dapat mempertahankan pelanggan dan meningkatkan penjualan di pasar tradisional.

Bagi Murningsih, beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen ke belanja online tidak sulit. Sebagai pedagang pakaian, ia menyadari pentingnya beradaptasi agar tidak ketinggalan zaman dan dapat bersaing dengan baik. Menurutnya, penjualan online melalui platform digital seperti Shopee dan Tiktok membantu meningkatkan keuntungan.

Langkah adaptasi dari belanja konvensional ke digital dapat dilakukan melalui live streaming untuk mempromosikan keunggulan fisik pasar tradisional. Keunggulan tersebut, seperti melihat langsung kualitas barang dan mencoba ukuran, perlu dipertahankan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat pada pasar tradisional.