Pernahkah kita membayangkan, andai saja sejak merdeka kita menggunakan Dolar Amerika atau mematok mata uang kita setara dengannya, mungkin kita tidak perlu pusing melihat angka nol yang berderet di dompet. Pertanyaan seperti itu telah saya sampaikan kepada seorang teman yang cukup senior dibidang ekonomi, sebulan yang lalu. Menurut dia, ekonomi tidak sesederhana menukar kertas. Ada alasan mendalam mengapa kita memilih Rupiah, dan mengapa nilainya kini terasa tertinggal jauh dari Singapura maupun Malaysia.
Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, hal pertama yang harus dimiliki sebuah negara adalah pengakuan. Mata uang adalah atribut kedaulatan selain bendera dan lagu kebangsaan. Menggunakan mata uang negara lain (seperti Dolar AS) berarti menyerahkan “setir” ekonomi kita kepada bank sentral negara tersebut. Jika kita pakai Dolar, kita tidak bisa mencetak uang sendiri, tidak bisa mengatur suku bunga sendiri, dan ekonomi kita akan sangat bergantung pada kebijakan di Washington. Indonesia memilih mandiri agar bisa mengatur nasib ekonominya sendiri melalui Bank Indonesia.
Banyak yang iri melihat Ringgit Malaysia atau Dolar Singapura yang angka nominalnya “kecil”. Mengapa Rupiah seolah punya angka nol yang tak habis-habis? Jawabannya adalah Inflasi Sejarah. Pada tahun 1960-an, Indonesia pernah mengalami hiperinflasi hingga 600%. Harga barang naik gila-gilaan dalam hitungan hari. Untuk mengatasinya, pemerintah saat itu melakukan pemotongan nilai uang (sanering), namun trauma ekonomi tersebut meninggalkan jejak angka nominal yang besar hingga hari ini.
Sementara itu, Singapura dan Malaysia memulai sistem moneter mereka dengan stabilitas yang lebih terjaga dan disiplin fiskal yang ketat sejak awal. Perbandingan ini sering kali terasa menyakitkan, namun ada alasan fundamental di baliknya. Singapura adalah negara finansial. Mereka butuh mata uang yang sangat kuat untuk menarik investasi global dan karena mereka mengimpor hampir seluruh kebutuhan hidupnya, termasuk air dan makanan. Sedangkan Malaysia memiliki struktur ekonomi yang lebih banyak mengandalkan manufaktur ekspor yang stabil sejak lama. Sementara Indonesia memiliki tantangan geografis yang luas dan ekonomi yang sangat bergantung pada harga komoditas (seperti sawit, batubara, dan nikel). Ketika harga komoditas jatuh, Rupiah biasanya ikut goyang.
Penting untuk dipahami: Angka nominal yang besar tidak selalu berarti ekonomi yang hancur. Jepang menggunakan Yen. 1 Dolar AS setara dengan sekitar 150 Yen. Apakah Jepang negara miskin? Tentu tidak. Nilai tukar adalah masalah “skala”. Yang berbahaya bukanlah ketika nilai tukar kita Rp16.000 per Dolar, melainkan jika hari ini Rp16.000 lalu bulan depan tiba-tiba menjadi Rp20.000. Volatilitas itulah musuh sebenarnya, bukan jumlah angka nolnya.
Kita tidak bisa memutar waktu dan memilih Dolar sejak dulu. Yang bisa dilakukan sekarang adalah memperkuat nilai Rupiah dari dalam. Bagaimana caranya? Menjual barang jadi, bukan sekadar bahan mentah, agar devisa yang masuk lebih besar. Semakin kita bergantung pada barang luar negeri, semakin banyak Dolar yang kita butuhkan, dan semakin tertekan nilai Rupiah. Solusi lain adalah menggunakan produk lokal membantu menjaga perputaran uang tetap di dalam negeri. Rupiah adalah simbol perjuangan yang membawa beban sejarah besar. Memang melelahkan melihat nilai tukar yang terus melemah terhadap tetangga, namun kuncinya bukan pada mengganti mata uang, melainkan pada memperkuat fundamental ekonomi kita sendiri.