Pada malam di bulan Oktober 2024, Sian Alderton, remaja 18 tahun asal Norwich, Inggris, hampir kehilangan nyawanya setelah berbagi vape dengan teman-temannya.
Keesokan harinya, tubuh Alderton mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa, membuat sang ibu, Kerrie Durrant, merasa ada yang berubah pada putrinya.
Durrant merasa gelisah ketika melihat Alderton gelisah dan kesulitan bergerak, serta mengalami rasa haus yang tidak wajar.
Tanpa menunggu lebih lama, Durrant membawa Alderton ke rumah sakit, di mana Alderton didiagnosis menderita meningitis, infeksi serius yang menyerang selaput otak dan sumsum tulang belakang.
Alderton ditempatkan dalam koma medis dan tim dokter memberikan peringatan bahwa peluang bertahan hidupnya sangat kecil.
Setelah melewati masa kritis, Alderton akhirnya pulih tanpa kerusakan otak permanen, meskipun bekas trauma masih membayangi.
Alderton kini lebih berhati-hati dan tidak akan lagi berbagi vape dengan siapa pun setelah mengalami pengalaman mengerikan tersebut.
Kisah Alderton menjadi pengingat penting tentang bahaya meningitis di tengah meningkatnya kasus di Inggris.
Gejala meningitis kerap menipu dan bisa menyerupai flu biasa, namun bisa berkembang menjadi penyakit mematikan dalam waktu singkat.