INDONESIA hari ini tak ubahnya seorang anak sekolah yang berdiri di depan cermin, mengenakan seragam rapi, dan dengan lantang berteriak bahwa ia akan menjadi juara kelas. Targetnya jelas: lulus dengan nilai sempurna, menjadi murid teladan, dan masuk dalam jajaran elit “siswa berprestasi” dunia melalui visi Indonesia Emas 2045.
Namun, ketika pintu kamar tertutup dan realitas harian dimulai, potret yang muncul justru sebaliknya. Di atas podium internasional, kita bicara tentang pertumbuhan ekonomi 8% dan ambisi menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country).
Namun, di dalam “ruang kelas” domestik, perilaku kita justru mencerminkan murid yang malas belajar. Hukum kita amburadul, sering kali bisa dikompromi layaknya nilai ujian yang bisa dikerek melalui jalur belakang.
“Alih-alih membangun fondasi yang kokoh melalui efisiensi dan inovasi, kita lebih suka ‘mencontek’ kesuksesan semu dengan menumpuk utang yang kian menggunung,” kata sumber.
“Visi besar itu semakin terlihat mustahil karena ekosistem sekolah yang tidak sehat. Praktek monopoli, oligopoli, dan kartel telah menciptakan sekat-sekat yang kaku,” tambahnya.
“Ekonomi kita menjadi sangat tidak efisien. Alih-alih kompetisi yang sehat berdasarkan prestasi, yang terjadi adalah transaksi kepentingan,” ujar sumber.
“Ironi terbesar terletak pada siapa yang menikmati hasil dari kerja keras (atau utang) bangsa ini. Para pejabat dan pengusaha yang berada di lingkar kekuasaan sibuk menikmati manisnya gula pertumbuhan ekonomi,” ungkap sumber.
“Bagi rakyat jelata, porsi yang dibagikan bukanlah kesejahteraan nyata, melainkan ‘mimpi’,” ujar sumber.
“Seorang murid tidak akan pernah menjadi juara kelas hanya dengan mengganti sampul bukunya atau mempercantik tampilan presentasinya. Tanpa perubahan mentalitas, tanpa pembersihan sistem dari praktek curang, dan tanpa kemauan untuk disiplin dalam hukum, jargon ‘Indonesia Emas’ hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah sebagai sebuah delusi besar,” tutur sumber.
“Sudah saatnya kita berhenti merasa menjadi murid teladan jika faktanya kita masih hobi mencontek dan foya-foya di atas beban masa depan. Pertumbuhan 8% tidak akan ada gunanya jika hanya menjadi angka di atas kertas, sementara piring makan rakyat tetap kering,” pungkasnya.