Lulusan Melek Teknologi Mampu Mendapat Lebih Banyak Pekerjaan

Dalam lanskap perkembangan ekonomi saat ini, ijazah saja tidak lagi cukup untuk menjamin masa depan karier yang cerah. Revolusi Industri 4.0 (IR 4.0) dan gelombang digitalisasi yang pesat telah mengubah kebutuhan pasar kerja secara drastis. Lulusan yang melek teknologi bukan sekadar memiliki kelebihan, bahkan hal ini kini menjadi syarat dasar untuk meningkatkan keterpasaran kerja dan daya saing di kalangan pencari kerja. Menurut Laporan Masa Depan Pekerjaan (Future of Jobs Report) dari Forum Ekonomi Dunia (WEF), keterampilan teknologi digital diperkirakan akan menjadi inti utama dalam penciptaan lapangan kerja baru menjelang tahun 2027.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa peran yang membutuhkan literasi data, kecerdasan buatan (AI), dan keamanan siber akan mengalami pertumbuhan tertinggi. Ini berarti, lulusan dari berbagai bidang, tidak hanya dari aliran ilmu komputer, perlu membiasakan diri dengan perangkat digital untuk tetap relevan. Seluruh dunia menghadapi situasi yang semakin kritis ini. Data menunjukkan bahwa sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta layanan profesional berbasis pengetahuan menjadi penyumbang utama perekrutan tenaga kerja baru.

Sebagai contoh, seorang lulusan sumber daya manusia yang mahir menggunakan sistem manajemen data awan (cloud) akan lebih efisien dibandingkan lulusan yang hanya bergantung pada metode manual saja. Namun, tantangan masih ada. Terdapat kekhawatiran di kalangan lulusan ilmu sosial terutama yang merasa bahwa mereka akan tertinggal. Pakar akademik berpendapat universitas perlu memainkan peran yang lebih proaktif dalam menyukseskan rencana digital dan AI.

Integrasi modul teknologi dalam kurikulum semua fakultas merupakan langkah yang perlu diambil di mana universitas telah mulai melaksanakan inisiatif melalui program ‘Micro-credentials’ yang memungkinkan mahasiswa mengambil kursus singkat terkait pemrograman, analisis data, atau desain grafis tanpa harus mengubah jurusan utama mereka. Ini merupakan nilai tambah yang dapat membuat lulusan laku di pasar. Grab Indonesia kini sedang bersiap untuk mempergiatkan penggunaan AI praktis guna meningkatkan pengalaman harian pengguna dan mitra usaha.

Inisiatif yang akan dilaksanakan mencakup GrabMaps berbasis AI untuk ketepatan alamat dan rute, AI Driver Companion untuk membantu pengemudi mengidentifikasi area permintaan tinggi, serta AI Merchant Assistant yang membantu usaha kecil mengoptimalkan operasi dan pertumbuhan. Inisiatif ini dinilai sejalan dengan rencana digital nasional yang mengoptimalkan dan memanfaatkan teknologi ini untuk lulusan yang melek teknologi. Selain itu, pemerintah melalui Rencana Ekonomi Digital sangat berkomitmen untuk melahirkan banyak profesional digital.

Inisiatif seperti Program Pelatihan Digital (Digital Training Program) menawarkan kesempatan kepada lulusan baru untuk mengikuti pelatihan intensif yang disponsori sepenuhnya. Ini adalah peluang emas yang seharusnya tidak dilewatkan oleh lulusan yang sedang mencari kerja atau ingin beralih karier. Meskipun demikian, masih banyak masyarakat di daerah pinggiran yang menghadapi kesenjangan teknologi yang besar dan perlu diberikan bantuan. Sebagai contoh, metode pengajaran konvensional juga menghadapi tantangan besar untuk mengintegrasikan teknologi digital di dalam ruang kuliah.

Oleh karena itu, kesenjangan digital terlihat nyata dengan tingkat akses internet di daerah pedesaan lebih rendah dibandingkan dengan di daerah perkotaan. Oleh karena itu, menjadi lulusan yang melek teknologi adalah sebuah investasi untuk masa depan. Ini bukan tentang menjadi pakar IT sepenuh waktu, tetapi tentang memiliki pola pikir digital yang adaptif. Lulusan disarankan untuk senantiasa meningkatkan keterampilan (upskilling) melalui platform daring yang sah dan memanfaatkan bantuan pemerintah.

Dengan sikap proaktif ini, pintu peluang karier akan terbuka lebih lebar, sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan. Prof. Madya Ts. Dr. Muhamad Saufi Che Rusuli adalah Dosen Pusat Studi Manajemen Bisnis, Universitas Utara Malaysia (UUM).