Pelayanan listrik PT PLN di Pulau Bengkalis masih dikeluhkan masyarakat. Aliran listrik yang mengalir sering padam. Tak pelak, Unit Layanan Pelanggan (ULP) PT PLN Bengkalis, yang bertanggung jawab dalam operasional teknis, transaksi energi atau pelayanan pelanggan listrik di Pulau Bengkalis, menjadi sorotan.
Padahal, saat ini terdapat 40 unit mesin pembangkit milik empat perusahaan yakni PT PLN, PT JBM, PT BGP dan PT Hutan Alam menjadi pemasok listrik di Pulau Bengkalis. 40 mesin diesel tersebut menghasilkan daya 29 Megawatt (MW). Sementara kebutuhan listrik di Pulau Bengkalis secara keseluruhan termasuk tambak udang, baru 23 MW. Artinya, terdapat surplus 6 MW.
Namun demikian, hal itu ternyata belum menjamin listrik di Pulau Bengkalis menyala 24 jam terus menerus. Justru sebaliknya, tidak ada hujan petir maupun badai, tiba-tiba listrik mendadak mati. Anehnya, listrik tersebut padam pada jam-jam tertentu.
“Tak ada hujan, tak ada angin tiba-tiba listrik mati. Ini (padam) sudah berulang kali,” keluh Hendri warga Kota Bengkalis.
Menanggapi hal ini, Andra, Team Leader K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan) ULP PT PLN Bengkalis yang dijumpai pada Rabu (9/4/2026) lalu di kantornya mengatakan, selaku pihak yang bertanggungjawab dalam operasional teknis, transaksi energi, atau pelayanan pelanggan, tidak ada niat atau sengaja lakukan pemadaman.
Menurutnya, ada dua faktor matinya listrik di Bengkalis. Pertama saat pemeliharaan mesin, kedua akibat binatang liar. Apabila ada pemadaman saat pemeliharaan atau overhaull, terlebih dahulu pihaknya akan menyampaikan informasi kepada pelanggan baik melalui media maupun media sosial.
Sedangkan jika listrik mati mendadak, itu murni akibat gangguan binatang liar, bukan memprioritaskan kepada tambak udang yang selama ini jadi pembicaraan warga. Ditegaskan Andra, sampai saat ini gangguan binatang liar seperti monyet, lutung dan ular masih menjadi momok bagi PLN Bengkalis.
“Kita ada perjanjian dengan pengusaha tambak udang, jika ada pemadaman, pertama-tama yang kami padamkan mereka (tambak udang). Tapi, gangguan dari monyet, lutung dan ular tidak bisa kita prediksi,” tegas Andra.
Andra mengaku, selama dirinya bertugas di Bengkalis, ketiga jenis hewan tersebut paling dominan berinteraksi dengan jaringan listrik (memanjat tiang atau berjalan di kabel). Hal ini menyebabkan terjadinya korsleting, terutama pada pagi dan sore hari.
“Delapan puluh persen gangguan listrik di Pulau Bengkalis akibat binatang liar,” tegasnya.
Ia memaparkan, efek dari pemadaman berkala dan padam seketika akibat binatang liar justru berpengaruh pada penerimaan PLN dari segi tagihan. Karena tagihan dihitung berdasarkan besarnya pemakaian.
“Kalau listrik mati, kami yang rugi. Tentu tagihan berkurang dan otomatis pemasukan berkurang,” ujarnya.
Untuk menimalisir gangguan binatang liar, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya, seperti memasang seng duri di tiang, dan seng payung yang ujungnya digunting agar melambai diterpa angin untuk menakut-nakuti monyet serta protection sleeve atau pelindung kabel, sekaligus mencegah hubungan arus pendek (short circuit) akibat hewan. Namun, semua usaha tersebut belum menjamin amannya kabel dari binatang liar yang kehadirannya sulit diprediksi.
“Kita sudah berupaya melakukan berbagai terobosan agar listrik tidak terganggu dengan keberadaan hewan tersebut. Namun, hasilnya masih belum maksimal. Karena jaringan kabel dekat dengan hutan dan kebun,” ujarnya lagi.