Aksi unjuk rasa mahasiswa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan gedung DPRD Kota Malang berlangsung ricuh, Senin (10/2) siang. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Malang turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah tersebut.

Ketua BEM Universitas Airlangga, Andika Pratama, mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan memberikan dampak yang negatif bagi masyarakat, terutama bagi kalangan mahasiswa. “Kami menolak keras kenaikan harga BBM ini karena ini akan memberatkan rakyat kecil, termasuk mahasiswa,” ujarnya.

Aksi unjuk rasa yang dimulai sejak pagi hari itu berlangsung damai hingga tiba-tiba terjadi insiden saling lempar batu antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Hal tersebut membuat situasi semakin memanas dan akhirnya terjadi bentrokan antara kedua belah pihak.

Kapolres Malang Kota, AKBP Budi Santosa, menegaskan bahwa pihak kepolisian harus mengambil tindakan tegas untuk meredakan kerusuhan yang terjadi. “Kami tidak bisa membiarkan aksi ini berlangsung terus menerus, kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Malang,” kata Budi Santosa.

Para mahasiswa pun terus melakukan aksi unjuk rasa dengan menutup jalan utama di depan gedung DPRD Kota Malang. Mereka menuntut agar pemerintah membatalkan kebijakan kenaikan harga BBM yang dinilai merugikan masyarakat.

Sementara itu, Wali Kota Malang, Sutiaji, menyatakan bahwa pihaknya sudah mencoba melakukan dialog dengan perwakilan mahasiswa namun belum mencapai kesepakatan. “Kami terus berupaya untuk mencari solusi terbaik agar aksi ini dapat berakhir dengan damai dan tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat,” ujarnya.

Hingga saat ini, aksi unjuk rasa mahasiswa di Kota Malang masih berlangsung dan pihak kepolisian terus melakukan pengamanan di sekitar lokasi. Pemerintah pun diharapkan segera memberikan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini dan menjaga kondusivitas di Kota Malang.