Negara Konoha, yang biasanya hanya menjadi referensi pop-kultur bagi para penggemar anime Naruto, kini telah menjadi metafora sosiopolitik yang serius di media sosial.
Korelasi yang paling sering disorot adalah struktur kepemimpinan di Konoha, di mana jabatan Hokage seringkali berputar di lingkaran yang sempit.
Netizen Indonesia melihat pola serupa dalam struktur kepemimpinan di tanah air, dengan dominasi klan-klan politik besar dan kemunculan figur-figur muda yang memiliki “jalur cepat” karena faktor keturunan.
Istilah “Anak Hokage” kini menjadi kode satir untuk menyebut putra-putri pejabat yang masuk ke kancah politik dengan privilese penuh.
Dalam dunia Naruto, koneksi seringkali menentukan nasib seseorang, hal ini dirasa sangat relevan dengan realita di Indonesia.
Sistem meritokrasi sering kali kalah oleh kekuatan “orang dalam” di Indonesia, mulai dari rekrutmen pekerjaan hingga pengisian jabatan publik.
Netizen sering mengaitkan isu kebebasan berpendapat di Indonesia dengan organisasi bawah tanah Anbu Root di Konoha.
Tindakan represif, intervensi di ruang digital, hingga penegakan hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas dianggap sebagai “gaya kerja Danzo” yang mengorbankan keadilan demi narasi stabilitas nasional.
Ketimpangan akses terhadap keadilan memperkuat perasaan bahwa masyarakat hidup di sebuah “desa” di mana suara rakyat jelata hanya didengar jika sudah menjadi kegaduhan yang mengancam reputasi desa.
Penggunaan istilah “Konoha” sebagai bentuk perlawanan simbolik oleh netizen Indonesia merupakan cara untuk menertawakan keadaan yang sebenarnya pahit untuk diterima.