Iran menolak rencana Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan sementara perang sambil terus melancarkan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk. Pada Rabu (25/3/2026), Iran melancarkan serangan terhadap sebuah depot minyak di Bandara Internasional Kuwait yang memicu kebakaran. Keteguhan Iran untuk menolak usulan gencatan senjata AS juga bersamaan dengan serangan udara Israel terhadap Teheran, sementara AS mengirim pasukan dari Angkatan Udara dan marinir ke kawasan Timur Tengah.

Dalam wawancara dengan televisi Iran yang dilansir oleh Associated Press, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pemerintahnya tidak terlibat dalam pembicaraan mengakhiri perang, “dan kami tidak merencanakan negosiasi apapun.” Pernyataan Araghchi tak lama setelah salah satu pembaca berita di salah satu stasiun TV Iran mengutip seorang sumber pejabat yang mengatakan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata dari AS. Iran, menurut presenter TV itu, memiliki tuntutan tersendiri untuk mengakhiri perang.

Sebelumnya, dua pejabat dari Pakistan yang meneruskan usulan AS ke Iran, menggambarkan 15 poin yang di antaranya adalah pencabutan sanksi, penghapusan program nuklir, memberi izin program rudal, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara itu, seorang pejabat dari Mesir yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan, usulan AS juga meminta Iran membatasi dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa AS dan Iran dalam proses negosiasi meski Teheran membantah. “Negosiasi berlanjut. Produktif, sebagaimana yang dikatakan Presiden pada Senin, dan pembicaraan akan terus berlanjut,” kata Leavitt. Leavitt juga mengingatkan bahwa jika proses negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan, Presiden Donald Trump, “akan memastikan bahwa mereka akan dihantam lebih keras dari apa yang pernah terjadi sebelumnya.”

Beberapa poin dari proposal yang diajukan AS bisa dipastikan akan ditolak Iran Merujuk pada negosiasi yang pernah terjadi sebelum perang pecah. Iran diketahui menolak tegas membicarakan program rudal balistik dan dukungan mereka terhadap kelompok militan di kawasan, yang memandang Teheran sebagai kunci dari keamanan nasional negara. Terkait Selat Hormuz, Iran kini memandang kemampuan mengontrol perlintasan itu sebagai keuntungan strategi terbesar negara.

Serangan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan secara bersamaan dengan perlintasan Selat Hormuz telah memicu munculnya harga minyak yang menekan AS untuk mencari jalan keluar untuk membuat pasar dunia tenang.