BAYANGKAN sebuah negara yang sanggup menerbangkan 260 unit jet tempur siluman F-35 di langitnya, namun lebih memilih untuk mengisi piring makan 80 juta anak sekolah setiap hari. Inilah potret presisi Indonesia hari ini: sebuah raksasa ekonomi dengan daya beli masif yang sedang menghitung ulang definisinya tentang kekuatan. Di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah dan perlombaan senjata global, pertanyaan besarnya bukan lagi mampukah kita membeli teknologi militer kasta tertinggi, melainkan sejauh mana otot logistik dan kemandirian bangsa ini sanggup menjaga kedaulatan di atas kaki sendiri. Seringkali kita terjebak dalam narasi bahwa Indonesia hanyalah penonton di panggung global. Namun, jika kita membedah data ekonomi dan postur pertahanan secara jernih, faktanya berbicara lain, Indonesia adalah raksasa dengan daya beli yang sangat masif.

Pemerintah Indonesia memproyeksikan anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai sekitar Rp71 triliun pada 2025, dan diprediksi menyentuh angka Rp400 triliun per tahun saat beroperasi penuh. Sebagai perbandingan, harga satu unit jet tempur F-15EX, salah satu yang tercanggih di dunia berkisar di angka Rp1,5 triliun. Sementara anggaran makan gratis satu tahun saat operasional penuh setara dengan membeli 260 unit jet tempur siluman F-35. Kemampuan kita untuk mendanai program sosial berskala kolosal membuktikan bahwa secara likuiditas, Indonesia mampu membeli peralatan tempur kasta tertinggi di dunia kapan pun kita mau. Pertanyaannya bukan lagi “mampu atau tidak?”, melainkan “apa prioritas bangsa saat ini?”.

Untuk memahami apa yang bisa dibeli Indonesia, kita harus tahu apa yang dianggap paling mematikan saat ini. Misalnya, F-35 Lightning II (AS) Bukan sekadar jet tempur, tapi pusat data berjalan yang sulit dideteksi radar. S-400/S-500 dari Rusia. Sistem pertahanan udara ini mampu menjatuhkan target dari jarak 400–600 km, termasuk rudal balistik. Dan Rudal Hipersonik Zircon, senjata yang meluncur lebih dari 5 kali kecepatan suara, membuat sistem pertahanan konvensional menjadi usang karena terlalu cepat untuk dicegat. Selain itu Kapal Selam Nuklir Kelas Virginia, senjata strategis yang bisa menyelam berbulan-bulan tanpa muncul ke permukaan, menjadi hantu di kedalaman samudera.

Saat ini, Indonesia berada di peringkat 13 dunia menurut Global Firepower 2026. Kita bukan lagi negara yang bisa diremehkan. Indonesia sedang melakukan modernisasi besar-besaran. Pembelian 42 jet tempur Rafale dari Prancis dan rencana F-15EX dari AS membuktikan posisi tawar kita. Kita adalah salah satu dari sedikit negara yang bisa “berbelanja” ke Barat dan Timur secara bersamaan tanpa terkena sanksi berat. Indonesia mengontrol ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Seluruh kapal dagang dan militer dunia yang ingin melintas dari Samudera Hindia ke Pasifik harus “permisi” melewati perairan kita. Ini adalah kekuatan tawar politik yang jauh lebih mahal dari sekadar rudal.

Senjata canggih masa depan membutuhkan nikel, tembaga, dan logam tanah jarang. Indonesia memiliki cadangan terbesar untuk bahan-bahan ini. Tanpa Indonesia, rantai pasok teknologi militer global akan goyang. Membeli senjata canggih adalah perkara mudah bagi negara dengan PDB di atas US$1 triliun seperti Indonesia. Namun, pelajaran terpentingnya adalah kedaulatan tidak hanya dibangun dari besi tua yang dibeli, tapi dari kemandirian. Investasi pada gizi anak (SDM) dan industri pertahanan dalam negeri seperti PT PAL, PT Pindad, dan PTDI adalah langkah jangka panjang agar di masa depan, kita tidak hanya menjadi “pembeli” yang kaya, tapi “produsen” yang disegani.