Dalam sebuah pernyataan resmi, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Retno Hesty, mengumumkan peningkatan kasus Covid-19 di kota tersebut. “Saat ini kita sedang menghadapi lonjakan kasus Covid-19 yang cukup signifikan,” kata dr. Retno pada konferensi pers yang diadakan di kantor Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Senin (12/07).

Menurut data yang dirilis oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya, jumlah kasus positif Covid-19 telah mencapai angka tertinggi sejak awal pandemi. “Kami mencatat penambahan 500 kasus baru dalam seminggu terakhir,” ungkap dr. Retno.

Lonjakan kasus ini disebabkan oleh varian Delta yang lebih menular. “Varian Delta ini sangat cepat menyebar dan lebih sulit untuk dikendalikan,” jelas dr. Retno.

Pemerintah Kota Surabaya telah mengambil langkah-langkah untuk menekan penyebaran virus, termasuk dengan memperketat protokol kesehatan. “Kami akan terus melakukan sosialisasi dan penegakan aturan protokol kesehatan agar masyarakat lebih disiplin dalam menerapkannya,” tambah dr. Retno.

Meskipun demikian, dr. Retno juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. “Kami akan terus berusaha untuk menangani situasi ini dengan sebaik mungkin. Yang terpenting saat ini adalah kerjasama dan kepatuhan semua pihak dalam melaksanakan protokol kesehatan,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, juga turut memberikan pernyataan terkait lonjakan kasus Covid-19 di Kota Surabaya. “Kami akan terus mendukung upaya pemerintah Kota Surabaya dalam menangani pandemi ini. Kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat diperlukan dalam menghadapi situasi ini,” ujarnya.

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi terkait penerapan lockdown di Kota Surabaya. Namun, pemerintah terus melakukan evaluasi dan koordinasi untuk mengambil langkah yang tepat dalam mengendalikan penyebaran virus.

Diharapkan dengan kesadaran dan kerjasama semua pihak, penyebaran virus Covid-19 di Kota Surabaya dapat segera terkendali. “Kami berharap masyarakat tetap waspada dan tidak lengah meskipun sudah mulai divaksin. Protokol kesehatan harus tetap menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas dr. Retno.