Inflasi di 38 Provinsi Indonesia pada Bulan April 2026

Jakarta – Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono melaporkan bahwa inflasi pada bulan April 2026 telah terjadi di 38 provinsi di Indonesia. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat sebesar 5,00 persen, Papua Pegunungan 4,89 persen, dan Aceh 3,88 persen.

Menurut Ateng Hartono, inflasi bulan ke bulan April 2026 terhadap Maret 2026 sebesar 0,13 persen, sedangkan inflasi tahun ke tahun April 2026 terhadap April 2025 sebesar 2,42 persen. “Artinya terjadi inflasi di April 2026 yang lebih rendah daripada bulan Maret 2026 dan bulan yang sama di tahun lalu, sedangkan inflasi tahunan April 2026 lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan April 2025 lalu,” ujarnya dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi.

Berdasarkan data BPS, kondisi inflasi di pulau Sumatera menunjukkan inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Aceh sebesar 3,88 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Provinsi Lampung sebesar 0,53 persen. Di Pulau Kalimantan, inflasi tertinggi terjadi di Kalimantan Selatan sebesar 3,67 persen, sementara inflasi terendah terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur sebesar 2,50 persen.

Sementara di Sulawesi, inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Tenggara sebesar 2,98 persen, sementara inflasi terendah di Sulawesi Barat sebesar 1,66 persen. Di Pulau Jawa, inflasi tertinggi terjadi di Jawa Timur 2,85 persen, dan inflasi terendah di Jawa Tengah sebesar 2,11 persen.

Di wilayah Bali Nusra, inflasi tertinggi terjadi di Nusa Tenggara Barat sebesar 3,27 persen dan inflasi terendah terjadi di Bali 2,08 persen. Sedangkan di Maluku Papua, inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat 5,00 persen dan inflasi terendah terjadi di Papua Tengah sebesar 1,53 persen.

Ateng Hartono juga melaporkan komoditas penyumbang inflasi di tiga provinsi tertinggi. Di Papua Barat, komoditas seperti tarif angkutan udara, ikan segar, dan beras menjadi penyumbang inflasi. Di Papua Pegunungan, cabai rawit, sigaret kretek tangan, bayam, dan tomat menjadi penyumbang inflasi.

Komoditas penyumbang inflasi di Aceh antara lain beras, emas perhiasan, ikan segar, nasi dengan lauk, sigaret kretek mesin, dan daging ayam ras. Sedangkan komoditas penyumbang deflasi di Aceh meliputi cabai merah, bawang merah, tarif air minum pam, dan kentang. Ateng Hartono mengimbau agar data ini menjadi perhatian bersama.