Badan Usaha Milik Daerah PT Riau Petroleum diharapkan tidak sekadar menyetorkan dividen dari perolehan hak partisipasi 10 persen di Blok Rokan. Perusahaan daerah tersebut didorong untuk melakukan ekspansi bisnis di sektor energi terbarukan, khususnya pengembangan bahan bakar nabati B50, guna memperkuat kemandirian energi lokal. Rencana pemanfaatan modal ini muncul menyusul kepastian cairnya dana participating interest (PI) senilai 20 juta dollar AS atau setara Rp 340 miliar.

Potensi dana besar ini dinilai menjadi momentum strategis bagi Riau untuk beralih dari sekadar pemilik konsesi menjadi produsen energi hijau. Ketua Panitia Khusus Optimalisasi Pendapatan Daerah DPRD Riau Abdullah menyatakan, melimpahnya bahan baku minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Riau merupakan keunggulan komparatif yang harus dikelola sendiri. Alokasi dana PI diharapkan menjadi stimulus untuk membangun infrastruktur pengolahan campuran solar tersebut.

“Kami merekomendasikan agar dana tersebut diarahkan untuk memproduksi B50. Ini peluang besar bagi Riau Petroleum untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok energi nasional,” ujar Abdullah di Pekanbaru, Minggu (26/4/2026). Menurut Abdullah, langkah ini sinkron dengan kebijakan pemerintah pusat yang tengah berupaya menekan impor solar industri.

Dengan mengolah CPO menjadi B100 yang kemudian diformulasikan menjadi B50, Riau memiliki peluang untuk mengamankan kebutuhan bahan bakar domestik sekaligus meningkatkan nilai tambah produk perkebunan daerah. Dalam skema pembagiannya, dana PI tersebut nantinya akan dipecah menjadi dua peruntukan. Sebagian dialokasikan sebagai pendapatan asli daerah (PAD) melalui setoran dividen ke kas Pemerintah Provinsi Riau, sementara sisanya tetap dikelola oleh perusahaan untuk pengembangan investasi.

Legislator dari Komisi III ini menekankan bahwa keberanian melakukan ekspansi bisnis sangat krusial bagi keberlanjutan BUMD. Jika Riau Petroleum hanya mengandalkan pendapatan pasif dari bagi hasil produksi migas, maka potensi pertumbuhan industri turunan di daerah akan sulit tercapai. “Sumber daya kita melimpah. Jika peluang ini diambil cepat, Riau bukan lagi sekadar penonton, melainkan motor penggerak ketahanan energi nasional,” kata Abdullah.