Ornamen Tugu Tanjak di Pantai Selatbaru Bengkalis menjadi sorotan karena banyak pihak mempertanyakan filosofi dan makna pucuk rebung yang mengarah ke bawah pada bagian karangan tanjak. Muhammad Fachrorozi, Tokoh Muda Bengkalis, menekankan bahwa ornamen Pucuk Rebung pada karangan tanjak lazimnya mengarah ke atas, namun pada Tugu Tanjak di Selatbaru justru sebaliknya. Bagi lelaki Melayu, tanjak bukan hanya penutup kepala, melainkan simbol kehormatan, marwah, martabat, dan jati diri yang digunakan oleh raja, panglima, dan pendekar.
Sebagai anak keturunan Melayu Riau, Muhammad Fachrorozi, atau Agam, menekankan pentingnya meletakkan simbol Melayu pada posisi yang lazim, termasuk pada Tugu Tanjak di Pantai Selatbaru. Agam mendesak Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Bengkalis untuk bertindak tegas agar ornamen atau simbol kebudayaan tidak melenceng dari nilai filosofis historis Melayu.
Agam menegaskan bahwa Melayu tidak hanya terjaga dengan simbol, tetapi juga dengan rasa adab sebagai kekuatan pribadi yang luhur untuk menjaga keberlangsungan insan-insan Melayu. Ia menegaskan bahwa hal yang tidak lazim atau salah tidak boleh diterima karena berpotensi merusak nilai sejarah bagi generasi Melayu.
Selain itu, Agam mengingatkan LAM Kabupaten Bengkalis sebagai benteng dalam melestarikan kebudayaan Melayu. Tanggung jawab moral untuk melestarikan nilai-nilai penting bagi semangat Melayu menjadi kewajiban LAM sebagai pengayom di wilayah yang dimaksud.
Menyikapi hal ini, Agam menyarankan agar instansi pemerintah yang terlibat dalam kegiatan kebudayaan melakukan kajian mendalam dengan melibatkan lembaga yang kompeten sebelum melaksanakan program tersebut. Vitra Andready Romadhani, konsultan perencana proyek Tugu Tanjak di Selatbaru, belum memberikan penjelasan terkait hal ini namun berjanji untuk memberikan penjelasan bersama kepala bidang terkait di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bengkalis.