Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau menyatakan kesiapannya dalam mendukung implementasi Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) di Bumi Lancang Kuning. Langkah strategis ini dianggap realistis mengingat integrasi antara sektor perkebunan dan peternakan sudah lama menjadi bagian dari praktik keseharian masyarakat tani di Riau.
Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, menekankan bahwa Riau memiliki potensi besar baik dari segi luas lahan perkebunan maupun ketersediaan sumber daya manusia. Menurutnya, konsep SISKA tidak asing bagi petani karena sebagian besar pekebun kelapa sawit juga telah memelihara ternak sapi di sekitar lahan mereka.
“Sektor peternakan di Provinsi Riau sangat siap untuk mendukung implementasi SISKA. Kondisi ini diperkuat dengan fakta bahwa sebagian petani kelapa sawit telah memelihara ternak sapi, sehingga konsep integrasi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Mimi Yuliani Nazir di Pekanbaru, Kamis (9/4/2026).
Dinas PKH Riau telah membentuk tujuh klaster SISKA sebagai pilot project yang tersebar di lima kabupaten. Klaster-klaster ini dirancang sebagai model percontohan yang nantinya akan dievaluasi efektivitasnya sebelum diperluas ke wilayah lain. Di Kabupaten Rokan Hulu, terdapat Klaster Sangkir Jaya dan Klaster Ternak Barokah.
Di wilayah lain, seperti Kabupaten Pelalawan, terdapat Klaster Ternak Maju Bersama, sementara Kabupaten Kampar memiliki Klaster Jaya Abadi. Kabupaten Siak memiliki Klaster Talago Samsam dan Klaster Mutiara Indah, sedangkan Kabupaten Indragiri Hulu memiliki Klaster Sinar Bakti.
Mimi menjelaskan bahwa klaster percontohan ini merupakan langkah awal untuk membangun model bisnis yang lebih modern. Melalui pilot project ini, pemerintah daerah dapat menyempurnakan pola integrasi yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah bagi sektor perkebunan dan peternakan.
Program SISKA bertujuan untuk mengoptimalkan daya tampung lahan perkebunan sawit Riau yang luas. Saat ini, populasi ternak sapi di Riau mencapai 206.205 ekor, namun masih jauh di bawah kapasitas lahan yang dapat menampung hingga 500.000 ekor sapi jika sistem SISKA dijalankan secara optimal.
Keberadaan 195 petugas Inseminasi Buatan (IB) di Riau mendukung kualitas genetik ternak sapi yang baik. Pola pemeliharaan di perkebunan yang menggembalakan betina dan melakukan pergantian pejantan secara berkala terbukti efektif dalam menjaga kualitas keturunan.
Selain itu, ketersediaan pakan alternatif dari limbah kelapa sawit seperti solid, bungkil, dan pelepah sawit dianggap layak dan ekonomis sebagai pakan ternak. Pemanfaatan limbah organik ini tidak hanya menekan biaya operasional peternak, tetapi juga membantu perusahaan perkebunan dalam mengelola limbah secara produktif.