Seperempat abad lebih Kuansing berlayar. Bukan waktu yang pendek. Bukan pula rute yang tenang. Sepuluh nakhoda sudah silih berganti. Naik-turun di anjungan. Memutar kemudi dengan gaya masing-masing. Ada yang tipenya “tukang batu”—senang membangun gedung, mengejar fisik. Ada yang lebih mementingkan “isi perut” dan urusan adat. Coraknya memang beda-beda. Tapi satu yang pasti: mereka semua berusaha agar kapal Kuansing tidak karam dihantam ombak zaman. Tetap tegak. Tetap melaju. Kuansing sudah tak mudah lagi. 26 tahun. Bukan waktu sebentar.

Dulu, ia “anak” Indragiri Hulu. Sekarang sudah punya warna sendiri. Mandiri. Sepuluh tangan sudah memegang kemudi. Bergantian. Ada yang gas pol, ada yang main cantik. Semua punya jasa. Semua punya jejak. Mula-mula: Rusjdi S. Abrus (1999–2001). Beliau nakhoda pertama. Statusnya Penjabat (Pj). Tugasnya berat: menyusun meja dan kursi. Membangun administrasi dari nol. Meletakkan fondasi kabupaten baru itu rumit. Tanpa Rusjdi, birokrasi kita mungkin masih gagap.

Lalu masuk era Asrul Jaafar (2001–2006). Wakilnya: Sukarmis. Ini duet bupati definitif pertama. Mereka yang membangun “rumah”. Fokusnya: Infrastruktur Dasar. Kompleks Senambek tegak. Jalan-jalan penghubung kecamatan mulai dibuka. Kuansing mulai punya identitas sebagai sebuah kabupaten.

Lalu datang era Sukarmis. Dua periode. Sepuluh tahun. Periode I (2006–2011) bersama Mursini. Periode II (2011–2016) bersama Zulkifli. Ini era ledakan. Sukarmis itu bapak pembangunan. Suka yang besar-besar. Program unggulannya: Mega Proyek Tiga Pilar. Ada Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS), Pasar Modern, dan Hotel Kuansing. Beliau ingin Kuansing jadi pusat pendidikan dan ekonomi. Stadion dikerjakan. Jembatan-jembatan beton dibangun. Wajah Teluk Kuantan berubah total. Mentereng.

Setelah itu: Mursini (2016–2021), Wakilnya: Halim. Gayanya beda lagi. Mursini lebih suka bicara dapur warga. Program andalannya: Ekonomi Kerakyatan dan Pariwisata. Bibit sawit unggul dibagikan gratis ke petani. Beliau ingin perut rakyat kenyang dulu. Fokusnya di akar rumput, bukan gedung tinggi. Lalu, Andi Putra (2021) Wakilnya: Suhardiman Amby. Singkat. Tapi visinya jelas: Kuansing Bermarwah. Programnya: Penguatan nilai religius dan adat. Ingin tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Sayang, perjalanannya terhenti cepat di tengah jalan.

Kini, kemudi di tangan Suhardiman Amby. Gelarnya Datuk Panglimo Dalam. Plt. Bupati (2021–2023). Bupati Definitif (2023–Sekarang). Gayanya? Cepat. Taktis. Tidak suka bertele-tele. Program unggulannya: UHC (Universal Health Coverage). Sakit? Cukup bawa KTP. Berobat gratis di mana saja. Lalu ada program Jamela (Jemput Bola Pelayanan, red). Urus surat-menyurat tidak perlu ke kota, petugas yang datang ke desa. Beliau juga sangat kuat di Pelestarian Adat. Ninik Mamak dirangkul. Insentif diberikan. Adat ditaruh di tempat tinggi.