Super El Nino atau “Godzilla El Nino” diprediksi memicu kekeringan panjang yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bengkalis.

Pakar IPB, Bambang Hero Saharjo, mengingatkan kondisi tahun ini perlu diwaspadai serius karena berpotensi menyerupai kebakaran besar 1997–1998 yang melalap 10–11 juta hektare lahan. “Dengan anomali suhu hingga 2,7°C, dampaknya bisa sangat besar,” kata Bambang saat meninjau karhutla bersama Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan di Bengkalis, Jumat (3/4/2026).

Bambang juga menyoroti tinggi muka air parit yang melebihi batas aman 40 cm, sehingga meningkatkan risiko kebakaran. Menurutnya, mitigasi harus dilakukan lebih komprehensif karena kondisi akan semakin kering dan kekurangan air.

Berdasarkan studi terbaru, langkah pencegahan dan peringatan dini menjadi kunci, dengan fokus pengawasan di wilayah rawan seperti Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Bambang turut mengapresiasi program Green Policing Polda Riau melalui penanaman pohon untuk menekan emisi gas rumah kaca dan mengurangi dampak karhutla.

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secara kolaboratif melibatkan TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, BPBD, dan masyarakat. “Kami bergerak bersama mencari dan menangani titik api agar tidak meluas,” ujarnya.

Dalam upaya mengatasi risiko karhutla, Bambang menekankan pentingnya mitigasi serius dan kolaborasi lintas sektor.

Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, menambahkan bahwa penanganan karhutla harus melibatkan berbagai pihak untuk mencegah meluasnya kebakaran.

Selain itu, program Green Policing Polda Riau juga diapresiasi sebagai langkah nyata dalam mengurangi dampak karhutla dan emisi gas rumah kaca.

Dengan adanya Super El Nino, langkah-langkah mitigasi dan kolaborasi antarinstansi menjadi kunci dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan yang meningkat.