PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) berhasil menjaga tingkat produksi minyak dan gas bumi di Wilayah Kerja (WK) Rokan tetap stabil meski menghadapi Natural Decline. General Manager Zona Rokan, Andre Wijanarko, menjelaskan bahwa tanpa intervensi pengeboran masif, produksi Blok Rokan akan mengalami penurunan tajam.
Andre Wijanarko menekankan pentingnya pengeboran ratusan sumur baru setiap tahun sebagai upaya untuk menjaga pasokan energi nasional. Produksi terjaga di kisaran 150.000 – 160.000 barel minyak per hari (BOPD) berkat upaya PHR dalam melakukan operasi berskala besar.
Aktivitas rig pengeboran PHR berlangsung 24 jam sebagai strategi utama melawan Natural Decline. Target pengeboran 400 hingga 500 sumur menjadi fondasi teknis penting untuk menambal baseline produksi yang terus menyusut.
PHR bekerja sama dengan pemerintah (SKK Migas) dalam menjalankan operasi ini. Setiap barel yang berhasil dipertahankan dari Natural Decline merupakan komitmen PHR terhadap negara.
Revitalisasi aset warisan dan pengeboran masif dilakukan seiring dengan pembinaan mitra kerja lokal. PHR mewajibkan pemenuhan standar keselamatan dalam setiap operasi yang dilakukan.
Dalam upaya menjaga urat nadi migas nasional, PHR terus berupaya melakukan efisiensi operasional dan optimalisasi teknologi. Hal ini dilakukan agar setiap aktivitas pengeboran mampu memberikan dampak yang terukur bagi upaya menjaga ketahanan energi nasional.
Andre Wijanarko menegaskan bahwa PHR memiliki tanggung jawab untuk mengelola risiko operasional secara mandiri. Di tengah tantangan sumur tua, efisiensi operasional dan optimalisasi teknologi terus dilakukan.
PHR terus berkomitmen untuk memberdayakan pengusaha lokal Riau dan menjadikan operasi yang masif sebagai operasi yang selamat. Dengan kerjasama yang kuat antara PHR dan pemerintah, produksi minyak dan gas bumi di WK Rokan tetap terjaga stabil.