Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan potensi ekonomi yang besar dari pengelolaan minyak jelantah yang dihasilkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setiap SPPG mampu menghasilkan sekitar 500 liter minyak jelantah setiap bulan.
Jumlah tersebut dinilai sangat signifikan dan berpotensi menjadi sumber ekonomi baru apabila dikelola secara terstruktur. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya menyatakan, “Bayangkan jika ada 600 SPPG, masing-masing menghasilkan 500 liter per bulan. Jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu liter, atau setara puluhan ton minyak jelantah.”
Saat ini, minyak jelantah dari SPPG umumnya dijual oleh Koordinator SPPG dengan harga Rp7.000 per liter, padahal harga pasaran mencapai Rp10.000 per liter. Hal ini menunjukkan peluang peningkatan nilai ekonomi apabila dikelola lebih optimal.
Sony mendorong pemerintah daerah untuk mengambil peran dalam mengoordinasikan pengumpulan minyak jelantah tersebut, namun dengan mekanisme yang tetap melalui pembelian dari SPPG, bukan pengambilan secara sepihak.
Potensi ekonomi dari pengelolaan minyak jelantah akan meningkat jika dikumpulkan dan dijual dalam skala besar kepada perusahaan. Beberapa pihak, termasuk Pertamina, telah menunjukkan ketertarikan dalam pengelolaan minyak jelantah sebagai bahan baku energi alternatif seperti avtur.
Sony menyatakan, “Ini adalah potensi ekonomi yang besar. Harus diorkestrasi dengan baik dan tidak dibiarkan berjalan sendiri-sendiri.” Dengan demikian, pengelolaan minyak jelantah dari SPPG memiliki potensi ekonomi yang signifikan jika dikelola dengan optimal.