Salat Idulfitri 1447 Hijriah yang direncanakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau untuk dilaksanakan di Halaman Kantor Gubernur Riau pada Sabtu (21/3/2026) harus menyesuaikan dengan kondisi alam, demikian dilansir Serantau Media. Hujan deras mulai mengguyur Kota Bertuah sejak pukul 07.10 WIB, memaksa panitia untuk memindahkan lokasi ibadah ke Masjid Al Hidayah di dalam kompleks kantor gubernur. Meski terjadi perpindahan tempat secara mendadak, ribuan jamaah tetap memadati area masjid dan menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan.
Dalam pelaksanaan salat tahun ini, Ustaz H. Amin Yono SSy, Alhafiz bertindak sebagai imam yang memandu jalannya ibadah. Sementara itu, posisi khatib diisi oleh Dr. H. Muliardi, MPd, yang sekaligus hadir memberikan sambutan mewakili Pemerintah Provinsi Riau. Di hadapan para jamaah, Dr. Muliardi mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Idulfitri sebagai momentum sakral untuk saling memaafkan dan sarana memperbaiki diri demi hari esok yang lebih baik.
“Memaknai Idulfitri adalah momen untuk saling memaafkan dan memperbaiki diri. Saya pribadi dan mewakili Pemerintah Provinsi Riau memohon maaf yang sebesar-besarnya. Minal Aidin Wal Faizin,” ujar Dr. Muliardi dalam pesannya yang menyejukkan. Menariknya, dalam khotbahnya Dr. Muliardi memaparkan manfaat puasa bagi kesehatan fisik manusia berdasarkan fase waktu.
Selain regenerasi sel, Dr. Muliardi menyebutkan bahwa berpuasa secara medis terbukti mampu membersihkan kotoran di dalam ginjal serta meningkatkan konsentrasi otak. Menurutnya, Ramadan tidak hanya melatih spiritual, tetapi juga menjadi sarana detoksifikasi yang luar biasa bagi tubuh manusia.
Puasa juga dianggap sebagai madrasah kesabaran yang melatih setiap individu untuk mampu menahan amarah, memaafkan orang lain, serta membangun disiplin waktu yang tinggi melalui ibadah harian. Khatib juga mengingatkan jamaah agar konsistensi ibadah selama Ramadan, seperti salat berjamaah, tidak luntur setelah bulan suci berakhir. Ia berharap kebiasaan baik tersebut tetap dijaga sebagai identitas baru umat muslim.
Dr. Muliardi menyoroti pentingnya zakat dan sedekah sebagai wujud nyata kepedulian sosial yang dapat meningkatkan kedermawanan, mengingat di dalam harta yang dimiliki terdapat hak orang lain yang membutuhkan. Di penghujung khotbah, Dr. Muliardi menegaskan bahwa perintah zakat disebutkan sebanyak 82 kali di dalam Al-Qur’an dan hampir selalu digandengkan dengan perintah salat. “Salat adalah hubungan vertikal dengan Tuhan, sedangkan zakat adalah hubungan horizontal dengan sesama manusia. Zakat merupakan komponen penting dalam memberantas kemiskinan dan memperkuat persaudaraan kita,” pungkasnya.