Pekanbaru, RIAU1.COM – Pemerintah Kota Pekanbaru menggelar Festival Budaya Lampu Colok di berbagai kecamatan sebagai upaya untuk melestarikan tradisi masyarakat Melayu dan meramaikan bulan Ramadan. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat yang berpartisipasi dalam menampilkan kreasi lampu colok.
Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival ini. Menurutnya, festival tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menjaga dan melestarikan budaya Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun. Awalnya, Pemerintah Kota berencana untuk mengadakan festival secara terpusat namun akhirnya memutuskan untuk menyelenggarakannya di setiap kecamatan untuk alasan keamanan dan keterbatasan tempat.
Penyelenggaraan Festival Budaya Lampu Colok di setiap kecamatan berhasil meriahkan suasana Ramadan. Kecamatan Bukit Raya menjadi wilayah pertama yang melaksanakan kegiatan ini. Markarius memberikan apresiasi kepada camat Bukit Raya dan panitia atas kerja keras mereka dalam mempersiapkan festival tersebut.
Tradisi lampu colok memiliki nilai sejarah yang kuat dalam budaya masyarakat Melayu. Sebelum adanya listrik, masyarakat menggunakan pelita dari tempurung kelapa sebagai penerangan. Kini, pelita tersebut telah bertransformasi menjadi kreasi lampu colok yang indah dari berbagai bahan lain.
Markarius menekankan pentingnya melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari budaya yang baik. Selain untuk memperindah suasana Ramadan, festival ini juga mengingatkan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat. Ia berharap festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan tetapi juga dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan.
Markarius mengajak masyarakat untuk memakmurkan masjid, memperbanyak ibadah, dan melaksanakan iktikaf, terutama menjelang malam ke-27 Ramadan yang diyakini sebagai malam istimewa bagi umat Islam. Dengan demikian, Festival Budaya Lampu Colok di Pekanbaru diharapkan dapat membawa manfaat spiritual bagi masyarakat.