PT Bumi Siak Pusako (BSP) mengalami kerugian hingga USD 14 juta pada tahun 2024, namun kini menunjukkan tren pemulihan signifikan dengan proyeksi dividen mencapai USD 6 juta pada awal 2026.
Herianto, yang merupakan Komisaris BSP sekaligus Asisten II Pemkab Siak, menyebut capaian ini sebagai hasil dari evaluasi menyeluruh dan kebijakan strategis sejak Afni Zulkifli menjabat sebagai perwakilan pemegang saham mayoritas.
Dividen interim yang dapat langsung dibagikan mencapai USD 4,5 juta atau sekitar Rp75,9 miliar, sedangkan sisanya akan ditetapkan melalui RUPS tahunan setelah audit kantor akuntan publik rampung.
Pemerintah Kabupaten Siak dengan porsi kepemilikan saham sebesar 72,29 persen diperkirakan akan menerima sekitar Rp52 miliar pada tahap awal pembagian, sedangkan saham lainnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Riau (18,07%), Pemkab Kampar (6,02%), Pemkab Pelalawan (2,41%), dan Pemko Pekanbaru (1,21%).
Pemulihan kinerja BSP didorong oleh langkah efisiensi besar, evaluasi kegiatan trucking minyak via jalur darat, perubahan skema penjualan minyak mentah, penundaan sejumlah proyek non-prioritas, dan restrukturisasi manajemen pasca tantangan operasional sejak Maret 2023.
Afni juga aktif berkonsultasi dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam upaya memperkuat kontribusi sektor migas terhadap daerah.
Agenda strategis BSP untuk tahun 2026 meliputi pemenuhan Komitmen Kerja Pasti (KKP) melalui pengeboran tujuh sumur, rencana kolaborasi pengadaan pipa baru guna menekan biaya distribusi, serta penetapan direksi definitif melalui proses uji kelayakan dan kepatutan (UKK) secara profesional.
Pemkab Siak berharap kinerja positif BSP dapat terus terjaga untuk maksimalkan kontribusi dividen bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) demi kemaslahatan masyarakat.