Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Dr. H. Muliardi, M.Pd., mengajak umat Islam memaknai bulan Ramadan lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Dalam tausiyahnya yang disampaikan menjelang berbuka puasa di Mesjid Raya An Nur, Sabtu (21/2/2026) atau 3 Ramadan 1447 H, Muliardi menekankan pentingnya menjaga alam sebagai wujud nyata keimanan. Tausiyah bertajuk “Ekoteologi Ramadan: Iman yang Menjaga Lingkungan dan Sosial” ini juga disiarkan secara langsung oleh RRI Pro 1 Pekanbaru, sehingga bisa menjangkau masyarakat luas.
Setiap muslim adalah khalifah fil ardhi, pemimpin di muka bumi yang diberikan amanah oleh Allah SWT untuk merawat dan melestarikan alam semesta. “Di bulan Ramadan, kita bukan hanya dilatih menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri menjadi pribadi yang mampu menumbuhkan kesadaran sebagai khalifah di bumi, yang diberi amanah oleh Allah untuk menjaga dan melestarikan alam semesta,” ujarnya.
Nilai puasa seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya dalam ritual ibadah, sehingga membawa kemaslahatan bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Dalam tausiyahnya, Muliardi juga mengingatkan pentingnya kesederhanaan dan pengendalian diri. Hidup hemat, mengurangi konsumsi yang tidak perlu, menghindari mubazir saat sahur dan berbuka, serta bijak dalam penggunaan air dan energi merupakan cara konkret mengamalkan nilai puasa secara ekologis.
Perilaku merusak lingkungan seperti pembuangan sampah sembarangan, penebangan pohon liar, atau pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem dapat berkontribusi pada bencana alam seperti banjir dan longsor. “Momen Ramadan ini mengingatkan kita untuk menjaga dan peduli terhadap lingkungan. Puasa mengajarkan kita menahan diri dari tindakan yang merugikan, termasuk merusak alam. Mulailah dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, dan menanam pohon untuk menjaga keseimbangan lingkungan,” pesan Muliardi.
Tausiyah ini menegaskan bahwa ibadah puasa seharusnya tidak berhenti pada ritual pribadi semata, tetapi harus meluas menjadi kepedulian sosial dan ekologis, sebagai bentuk nyata pengamalan iman. Melalui pendekatan ekoteologi, nilai-nilai Ramadan bisa menjadi pengingat bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah yang mendatangkan berkah bagi seluruh makhluk.