Di UIN Suska Riau, para peneliti sedang mengembangkan solusi inovatif untuk mengatasi masalah krisis energi, ketahanan pangan, dan kesejahteraan petani yang belum merata. Mereka mengusung konsep agrivoltaik, yang merupakan gabungan antara pertanian dan energi surya.

Dr. Kunaifi, ST., PgDipEnSt., M.Sc., dosen energi terbarukan di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Suska Riau, bersama timnya, menggunakan dana penelitian BOPTN tahun 2025 untuk membangun sistem agrivoltaik eksperimental. Sistem ini terdiri dari panel surya yang ditanam di atas lahan pertanian, dengan bantuan dua mahasiswa dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) dan FST.

Selain menanam tanaman di bawah panel surya, tim peneliti juga mengembangkan ASICS (Agri Solar Intelligent Monitoring and Control System) berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi lingkungan di sekitar sistem agrivoltaik. Data tentang suhu tanah, kelembapan, pH, dan intensitas cahaya dikirim ke cloud untuk analisis lebih lanjut.

Menurut Putut Son Maria, S.ST., M.T., anggota tim peneliti, belum ada sistem pemantauan komersial yang khusus dirancang untuk kebutuhan agrivoltaik. Dengan sensor yang terhubung ke cloud, para peneliti dapat memantau kondisi tanaman secara real-time melalui ponsel.

Novita Hera, S.P., M.P., ahli pertanian dari Fakultas Pertanian dan Peternakan, menyatakan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) ke depan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman di bawah panel surya. Hasil awal penelitian menunjukkan bahwa tanah di bawah panel surya lebih sejuk dan lembap, memberikan perlindungan optimal bagi tanaman.

Penelitian ini membuka peluang untuk pengembangan model agrivoltaik yang lebih luas di Indonesia. Jika berhasil, konsep ini dapat menjadi solusi bagi desa-desa untuk menghasilkan listrik sendiri, petani untuk mengurangi biaya pompa air, dan lahan untuk menghasilkan energi dan pangan secara bersamaan. Model ini diharapkan dapat menjadi model pertanian baru di Indonesia.